Siapkah Jadi BAPAK?

Tulisan kali ini aku kasih judul “Siapkah Jadi BAPAK?”

Karena, seperti yang sudah aku tulis di postingan sebelumnya bahwa aku akan menjadi seorang ayah, seorang bapak yang insyaAllah dalam waktu dekat ini.

Istriku sudah mendekati hari persalinannya. Hari Perkiraan Lahir dedek sudah dekat.

Meski belum bisa dipastikan dengan pasti kapan dedek akan lahir dan menyapa dunia dengan tangis pertamanya. Aku sudah tidak sabar menantikannya, meskipun ada rasa cemas lain yang membayangi.

Iya. Rasa Cemas.

Mungkin normal atau wajar bagi sebagian laki-laki yang untuk pertama kali dalam hidupnya akan menjadi seorang ayah. Karena menjadi seorang ayah adalah sesuatu tanggung jawab yang besar. Dan sebuah status yang luar biasa. Dari seorang ayah lah seorang anak kelak akan menjadi seperti apa.

Meski memang sebagian lagi peran ibu lebih penting. Tapi entah mengapa menurutku seorang ayah juga sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

Aku sendiri adalah anak yang bisa dikatakan tidak terlalu dekat dengan ayahku. Yah, meski saat kecil aku bisa dikatakan sebagai anak yang paling dia sayang. Tapi kedekatan itupun tercipta karena ayah tidak selalu di rumah.

Ayahku lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja di tempat kelahirannya. Saat orang lain mungkin merantau ke lain kota, beda lagi dengan ayahku ini. Dia lebih memilih bekerja di tanah kelahirannya. Entah apa alasannya.

Karena hal itu lah yang membuat aku dan saudara-saudaraku tidak terlalu dekat dengan ayah. Waktu kami lebih banyak kami habiskan bersama emak. Semua pendidikan tata krama maupun kehidupan lebih banyak kami dapatkan dari emak. Sekilas semuanya mungkin normal-normal saja. Namun ini lah yang menjadi masalah.

Sosok ayah yang seperti apa yang harusnya kami tunjukkan kepada anak-anak kami kelak?

Pertanyaan itu yang akhir-akhir ini membayangi aku. Itulah yang membuatku cemas. Itulah hal yang membuatku takut menjadi seorang ayah.

Aku takut tidak bisa menjadi ayah yang bisa dibanggakan anak-anakku.

Aku takut tidak bisa menjadi ayah yang bijak bagi anak-anakku.

Aku takut tidak bisa menjadi ayah yang bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi mereka.

Aku takut.

Takut mungkin memang kata yang terlalu berlebihan. Lebih halusnya adalah cemas. Tapi entah kenapa kecemasan ini terlalu simple untuk disebut hanya cemas.

Aku sekarang harus mencari cara untukku menghadapi ketakutan itu. Aku harus lebih memotivasi diriku untuk Siap Menjadi Seorang BAPAK. Motivasi diri mungkin adalah cara terbaik yang bisa kulakukan.

Karena yang tahu tentang diriku, adalah aku sendiri.

Seorang teman yang sudah menjadi bapak selama lebih dari 7 tahun mungkin bisa kujadikan teladan. Setidaknya hal-hal positif yang dia punya yang bisa aku contoh. Anaknya sudah kelas 4 Sekolah Dasar, dan yang kulihat hubungannya dengan anaknya terbangun dengan sangat baik.

 

Setidaknya itu saja yang bisa aku tulis. Hanya mencoba mengemukakan unek-unek atau pikiran yang terkungkung di kepala.

Terima kasih bagi yang sudah kesasar kemari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: