DIMAS ‘THE TOD’ – PROLOGUE – ROAD TO ANOTHER WORLD

“Nah itu lah kenapa belajar itu penting gak penting. Soalnya nantinya kalo kita kerja, yang kita pelajari sekarang di sekolah belum tentu kepake. Bener gak?” kata seorang anak laki-laki yang nampak sedang memprofokasi teman sekelasnya untuk skip kelas.

“Ini masih pagi lho, kamu udah ngasih pengaruh gak bener aja ke orang lain” celetuk seorang gadis dengan jilbab putih dan kacamata baca yang nampak kegedean untuk mukanya yang tirus.

“Lu mah udah keracunan buku. Kagak ngerti dunia nyata yang menanti di depan sana. Buku itu sebagiannya itu cuma dongeng,” jawab si cowok berambut keriting acak-acakan sambil lompat dari mejanya.

“Dimas!” seru anak perempuan tadi yang merasa diremehkan.

“Apa? Ngajak ribu?” tantang anak laki-laki bernama Dimas itu. Sambil mengacak-acak jambulnya yang tidak nampak seperti jambul dia meledek anak perempuan tadi dengan menunjukkan muka anehnya.

“Hiii… jijik”

“Huuu.. Kabur sana! Hahahaha” ledek Dimas lagi semakin menjadi setelah anak perempuan tadi tidak tahan berhadapan dengannya dan memilih untuk keluar kelas. Dimas kemudian kembali berkumpul dengan teman-temannya yang sedari pagi diceramahi tentang betapa tidak terlalu pentingnya belajar menurut dirinya.

Saat pulang sekolah Dimas yang pada akhirnya mengikuti jam pelajaran sampai akhir nampak cemberut. Dengan muka masam dia melirik ke anak perempuan yang tadi pagi diledeknya. Rupanya anak perempuan tersebut mengadu ke wali kelas tentang sikap Dimas di kelas, dan berujung Dimas di hukum untuk belajar sendiri di ruang guru. Enak gak enak disuruh belajar sendiri dengan dikelilingi guru-guru yang memang sedang tidak ada jam mengajar, apalagi waktu itu Pak Gunawan yang merupakan guru killer cuma kebagian mengajar di 2 jam pembelajaran terakhir. Kenyanglah sudah Dimas di ruang guru dengan dijaga ketat oleh Pak Gunawan. Ditambah kebiasan Pak Gunawan yang sangat suka bertanya-tanya materi dari mata pelajaran lain yang tentunya Dimas cuma bisa menjawabnya dengan ngawur.

“Asyem bener! Siska si Ember Pecah emang nyebelin gila. Pake ngadu segala,” gerutu Dimas sambil melintas di depan satpam sekolah yang senyam-senyum sedari jauh melihat Dimas yang mukanya cemberut itu.

“Tumben sampai jam sekolah selesai,” ledek Pak Satpam tadi.

“Berisik! Gue lagi kesel!” hardik Dimas yang kemudian membuang muka dan berlalu pulang.

 

_~~~_

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: