BEFORE SLEEP [PART 3] END

Aku berlari sekuat tenaga kemudian, karena kulihat dia tetap tak bergeming dalam kegelapan seberang sana. Meskipun masih dengan menahan rasa perih di lengan, kucoba sekuat tenaga mencapainya dan hendak ku hajar dia tepat di mukanya.

Tapi memang benar! Dia bukan manusia biasa! Saat aku hampir mendekatinya, hampir aku melayangkan tinjuku ke wajahnya dia dengan cepat menghilang. Akhirnya hanya angin yang disambar oleh tinjuku itu. Benar-benar membuatku bingung dan semakin takut dibuatnya. Aku pun langsung membalikkan badan, takut kalau dia akan menyerang balik padaku dari arah yang tak terduga. Beruntung dia tidak ada di belakangku waktu itu. Namun, dia kemudian muncul secara cepat di samping kiriku dan tanpa sempat aku menghindar dia sudah menancapkan anak panah yang lain ke lengan kiriku lagi. Kali ini dia menggunakan tangannya sendiri untuk menusukku. Sakit yang tak terperi itu membuatku berteriak dengan sangat keras.

Aku pun tersungkur, mataku mulai berkunang dan tatapanku buyar. Aku hampir tidak bisa melihat apapun, hingga berangsur aku tak sadarkan diri. Semua gelap. Nafasku terasa berat, aku terbatuk-batuk namun tak bersuara. Baru kali ini aku merasakan hal seperti ini hingga membuatku teramat takut. Tidak ada setitik cahayapun yang masuk untuk sekedar memberiku nafas dan juga secercah harapan. Namun semua hanya anganku saja. Aku terjebak dalam kegelapan itu sendirian.

Mungkinkah aku telah mati?

Mungkin saja. Sebab yang kutahu, beginilah kematian. Gelap, dingin, berat untuk bernafas lagi, dan sendirian.

Banyak sekali yang sudah kulalui dalam hidupku yang sebelumnya. Banyak dosa dan kesalahan yang sudah kuperbuat. Banyak kenangan indah bersama keluarga dan sahabat serta teman-teman yang bertemu meski hanya sekejap. Terpisah jarak, terpisah waktu, dan begitu pula terpisah dengan kehidupan yang sudah berbeda. Dan kini mungkin giliranku untuk pergi ke dunia yang berbeda tersebut dan berpisah dengan keluarga maupun sahabat-sahabatku.

Sebuah suara menggelegar dan menggetarkan jiwa tiba-tiba terdengar. Aku yang sedari tadi meratapi nasibku dibuat kaget oleh suara tersebut. Suara yang berat dan seperti petir yang menyambar, begitu keras memekakkan telinga. Aku menutup kedua telingaku, mencoba untuk berlindung dari suara yang bisa saja membuatku tuli seketika. Aku yang lemah tak berdaya mencoba meraba-raba dan meraih apapun yang bisa kujadikan pegangan. Namun seperti yang kuduga, memang ruangan tersebut hanya ruangan kosong tanpa ada benda apapun selain kehampaan. Aku sendirian, dan aku ditakuti suara yang mengerikan itu.

Suara tersebut tidak begitu jelas ku dengar. Entah dia memanggil atau menyapa atau memerintah, aku sama sekali tidak bisa menerkanya. Saking takutnya aku, atau memang saking kerasnya suara itu yang menjadi bergema di seluruh tempat itu. Aku yang kemudian sedikit demi sedikit bisa menopangkan tubuh di kedua kakiku itu, berusaha menjauh meskipun perlahan. Sejengkal demi sejengkal, selangkah demi selangkah hingga akhirnya aku bisa berlari. Hanya saja sial menimpaku kembali, aku terjatuh pada sebuah jurang dan…

BRAKKK

“Lu kenape?”

Sebuah suara kembali terdengar, hanya saja aku kenal betul dengan suara itu barusan. Aku tidak asing dengan suara ramah dan menyenangkan itu.

Aku mencoba mengusap kedua mataku, dan mengerdipkan mataku berulang kali untuk mendapatkan penggambaran yang lebih jelas. Dan kudapati sepasang kaki di depanku, dengan jempol besar disana yang tidak lain adalah temanku.

“Andi?” tanyaku.

“Iye.. Lu susah amat dibangunin?” tanya Andi kemudian. Dengan muka penasaran dan sedikit terkekeh melihatku yang terjatuh dari tempat tidurku.

“Lho? Jadi yang tadi itu..?”

Kusadari ternyata hal mengerikan yang kualami tadi malam adalah sebuah mimpi buruk. Andi memapahku untuk berdiri. Dia begitu penasaran dengan mimpi yang kualami semalam. Aku menceritakan setiap detailnya, dan dia begitu antusias mendengarkan.

“Gila… Lu mimpi sampe segitunya. Kagak baca do’a dulu pasti lu sebelum tidur,” kata Andi yang kutanggapi dengan kernyitan di dahi. Namun setelah kembali ku ingat, ada benarnya apa yang dikatakan Andi.

Semalam saat aku hendak membaca do’a-do’a sebelum tidur itu ternyata aku langsung terlelap sebelum menyelesaikan do’aku itu. Mungkin karena lelah dan selimut yang begitu hangat membuatku nyaman di tempat tidur sehingga bisa dengan cepat membuatku terlelap. Kejadian dimana aku melihat makhluk dengan mata menyala merah yang membunuh pemilik kontrakan secara sadis di kamar mandi kosong dan aku yang juga terbunuh olehnya ternyata hanya mimpi belaka. Aku masih ketakutan sebenarnya meskipun sudah kembali sadar ke kehidupan nyata ini. Kejadian yang kualami itu terasa sangat nyata dan sakit di lenganku masih tersisa bahkan sampai kini.

Andi kemudian menyuruhku untuk pergi membersihkan badan karena kami memang sudah hampir telat untuk pergi bekerja. Andi teman kantor yang seringkali datang ke kontrakanku pagi-pagi untuk membangunkanku, atau sekedar mampir ngopi sepulang kerja dan dilanjut obrolan-obrolan ringan biasa.

Kembali kuingatkan pada diriku saat masuk ke kamar mandi yang berada di luar ruangan untuk selalu berdoa sebelum melakukan aktifitas. Terutama berdo’a sebelum tidur, karena mempunyai mimpi buruk itu memang benar-benar buruk.

 

 

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: