BEFORE SLEEP [PART 2]

Langkahku goyah, lemas dan tak berdaya.

Setelah apa yang ku lihat malam itu. Aku benar-benar ingin mengakhiri hidup ini seketika itu juga. Tapi aku sadar, aku bukan manusia yang bersih. Matipun aku akan tersiksa di neraka. Aku manusia yang masih punya banyak kesalahan. Masih banyak dosa, baik pada diriku sendiri terlebih lagi pada orang lain. Perkataanku mungkin saja seringkali menyinggung perasaan orang lain. Candaanku mungkin justru menghina orang lain.

Mataku nanar, menerawang pada kekosongan. Aku sudah melangkah jauh dari rumah kontrakanku itu. Aku kini entah berada di tempat apa. Jalanan sunyi dan gelap. Sedikit temaram di ujung jalan sana. Ku lihat lampu jalanan yang sesekali redup itu dikerumuni serangga-serangga kecil bersayap tipis. Ku lanjutkan langkah lemahku menuju cahaya tersebut.

Di kanan kiriku banyak pepohonan besar nan rindang. Di baliknya samar-samar ku perhatikan seperti bukit kecil atau jalan setapak dengan tanah miring di pinggirannya. Di sisi lain jalanan itu tumbuh subur rumput dan semak yang tak pernah dirapihkan. Menambah suram keadaan tempat itu.

Jalanan ini memanjang jauh ke depan, hingga berakhir di sebuah tembok tinggi besar. Tidak ku lihat ada jalan bercabang disana. Aku tersesat. Jalanan ini buntu rupanya. Tidak menuju ke tempat manapun. Ku tengok ke belakang dan hanya gelap yang kudapati. Sekelebat ada niatan untuk kembali ke arah aku datang tadi. Tapi aku teringat akan hal mengerikan yang ku saksikan malam ini.

‘Jika aku kembali. Maka aku mungkin akan mati.’

Hatiku bergetar, air mataku mulai berlinang. Rasa takut menyelimutiku dengan sangat erat. Tak bisa sedikitpun aku menghilangkan ketakutan itu. Bahkan aku tidak bisa mengingat sesiapa saja yang mungkin bisa ku mintakan pertolongan. Aku seolah tidak pernah terlahir dan bagaikan manusia buangan yang tidak pernah mengenal siapa orang yang telah mengabaikanku.

Gemetar tubuh ini karena takut yang bercampur dengan dinginnya udara di malam itu. Angi sesekali berhembus, menggoyangkan rerumputan dan dedaunan di pohon. Aku terduduk di bawah lampu jalanan. Ku dongakkan kepalaku dan ku lihat lampu itu.

‘Temani aku…

temani aku sampai pagi…

kumohon

temani…’

 

JRAT!!!

 

Sebuah anak panah menancap di lengan kiriku. Sejenak aku tak merasakan apapun, hingga akhirnya rasa nyeri itu merasuk dan menjalar di sekujur tubuhku. Lenganku terasa sakit sekali, membuat nafasku tak beraturan. Hendak ku cabut anak panah itu namun tak kuasa. ‘Ya Allah… Tolong hamba… Sakit sekali. Ahhh.. errrrrrr…’ kucoba sebisaku untuk menahan rasa sakitnya.

Anak panah yang terbuat dari besi itu nampak sangat usang, atau mungkin memang dibiarkan berkarat agar lebih mematikan. Ada duri-duri kecil di tangkai atau gandarnya, dan di ekornya ada bulu hitam yang ku yakini bulu ayam cemani. Entah bagaimana aku bisa lari atau pergi dari sana. Karena ku tahu, jalanan itu tak menuju ke tempat lain lagi.

Ku lihat arah datangku tadi yang merupakan arah datangnya anak panah itu, di kegelapan sana nampak dua titik merah sejajar melayang di udara. Di sanalah pemanah itu berdiri. Titik merah itu adalah matanya yang menyala. Bagai kobaran api yang tidak seorangpun berani menyentuhnya. Aku berusaha berdiri dengan bertopang pada tiang lampu jalan, dan ku lihat ke arah sang pemanah itu. Lalu tergambar sebuah senyum dari gigi-giginya yang putih. Sebuah senyum yang menandakan kesenangan hati. Dia merasa telah berhasil melepaskan anak panahnya dengan tepat pada sasarannya.

Ku memalingkan muka, menunduk, dan putus asa.

Aku berjalan mendekatinya. Dengan langkah lebih tegap dari sebelumnya. Ku kumpulkan keberanian untuk lebih dekat padanya. Tangan kananku memegang lenganku yang lain yang terluka.

‘Bunuh aku. Aku sudah tidak bisa kemana-mana lagi kan?’ kataku menyerah.

‘Khi khi khi…’ tawanya riang. Suaranya sedikit menyakitkan bagiku, suara riangnya seorang pembunuh berdarah dingin. Hanya saja aku tidak tahu, apakah dia seorang manusia atau makhluk lain…?

 

-to be continued

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: