BEFORE SLEEP [Part 1]

Ini adalah Minggu malam, dengan udara yang sangat dingin. Bintang gemerlap di langit malam, dan rembulan bersinar terang. Musim kemarau sudah tiba rupanya.

Binatang-binatang malam bersuara lebih ramai dari biasanya. Jangkrik yang sekarang semakin jarang terdengar pun sedikit lebih berisik malam ini. Kunang-kunang rupanya masih menghiasi kebun belakang rumah. Mereka hingga di dedaunan pohon kapulaga yang tumbuh subur. Beberapa lainnya beterbangan kesana kemari.

Kaki serasa tidak ingin menginjak lantai rumah. Dinginnya terasa menusuk dan membuat badan ingin lebih awal pergi ke tempat tidur dan menutup diri di balik selimut. Malam ini benar-benar sangat dingin.

Ku teringat masa-masa waktu kecil dahulu. Dimana saat ibuku pergi ke luar kota untuk bekerja begitupun dengan ayah, aku dititipkan di rumah nenek. Malam sebelum tidur aku akan didoakan oleh nenekku. Sembari mengusap kepalaku, ‘Kalo mau tidur, berdoa dulu. Bismika Allohuma ahya wabis mika amuut. Terus dilanjut dzikir, nanti lama-lama tertidur sendiri. Baca Kulhu (Surat Al Ikhlas) tiga kali, terus Falaq (Surat Al Falaq), sama Annas (Surat An Nas) satu kali satu kali. Biar tidurnya dijagain sama malaikatnya Allah.’

‘Iya mbah..’ kata gue lalu mengikuti bacaan yang nenek ajarkan tadi. Dengan perlahan nenek menuntunku untuk membaca doa doa tersebut. Hingga akhirnya akupun terlelap tidur.

Malam ini aku hendak mengulanginya lagi, karena sudah lama sekali aku tidak membaca amalan atau doa yang nenek ajarkan itu. Biasanya cuma doa sebelum tidur saja yang aku baca. Bahkan kadangkala juga kelupaan tidak membacanya.

‘Bis..’

BRAKK!!!

Belum selesai aku membaca basmallah aku dikagetkan dengan suara barang jatuh dari arah dapur.

Rumah kontrakanku memang tidak cukup besar, sehingga aku bisa dengan tepat menebak dari mana arah suara tadi. Jarak antar kamar dan dapur juga kebetulan berdampingan.

‘Tikus asem! Bikin jantungan aja,’ gerutuku. Seperti halnya rumah kontrakan pada umumnya, ada saja yang mengganggu penghuninya. Entah tikus, entah kecoa, entah selang air yang bocor, atap yang bocor karena genteng yang sudah usang dan pecah. Dan tikus adalah masalah yang ku miliki di rumah kontrakan ini.

Aku kemudian kembali menarik selimut dan menutup tubuh hingga kepalaku untuk mendapat lebih banyak kehangatan. ‘Bismika allohumma ahya wabismika amuut…’

PRANG!!!

Kali ini sudah jelas, piring yang jatuh diserudug tikus-tikus menyebalkan itu. Aku bangun dan keluar dari kamar dengan menggaet sapu di dekat lemari pakaian. Merasa waktu istirahatku terganggu aku menjadi kesal dan ingin memberi pelajaran pada tikus-tikus itu. Dengan seringai bagai pemburu, aku memperhatikan setiap sudut atap rumah. Tidak ada apa-apa. ‘Cih.. pasti tahu bakal aku gebugin’

Aku kemudian pergi ke dapur dan kudapati piring dan sebuah cobek berserakan di lantai. Ku bersihkan pecahan piring, dan ku taruh cobek tadi ke washtafel.

Selagi membersihkan pecahan piring aku teringat sesuatu. Cobek yang jatuh. Aku ingat betul waktu sore hari aku menaruhnya di dalam lemari. Tapi kenapa bisa sampai jatuh dan lemarinya pun ku lihat masih tertutup rapat. Kalaupun memang tidak di lemari, apa mungkin tikus rumah yang ukuran tubuhnya kecil itu bisa sampai menjatuhkan sebuah cobek batu yang cukup berat itu?

Tiba-tiba saja aku menjadi merinding. Bulu kudukku berdiri, dan aku teringat dengan kamar mandi yang jarang kupakai karena memang kotor dan airnya belum sempat diperbaiki semenjak aku menghuni rumah itu. Dengan perasaan bercampur aduk antara takut dan penasaran, aku melihat ke arah pintu kamar mandi yang terbuka sedikit.

Aku berdiri, merogoh saku celana dan kuambil kunci gembok kamar mandi yang selalu kubawa. Entah apa yang membuatku selalu membawanya. Padahal aku pun tidak pernah punya niatan untuk membukanya. Dan kali ini kudapati pintunya terbuka. Bukan olehku tentunya. Yang berarti, oleh siapakah?

Dengan sedikit memalingkan muka, aku mendekati kamar mandi dan mataku tertuju pada gembok yang tergantung disana. Masih terkunci. Tidak terbuka. Bulu kudukku kembali berdiri dan membuatku merinding.

‘Apa sebenarnya yang terjadi? Apa yang ada di balik pintu itu?’

 

–to be continued

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: