LULU

Sore ini disambut dengan hujan yang mengguyur kota Purbalingga dari sekitar jam3 sore tadi. Ya, Purbalingga, aku sekarang bekerja di kota kelahiran Panglima Besar Jenderal Soedirman beberapa dekade silam.

Seperti biasa, rutinitas di kantor begitu padat mulai jam 3 sore tadi. Merefisi dari beberapa orderan sales yang tidak sesuai stok gudang, hingga mencetaknya dalam bentuk faktur. Bekerja sebagai operator di sebuah distributor memang seperti ini. Lika liku yang dijalani adalah saat hari sudah sore namun kerjaan belum rampung semua. Kadangkala menjadikan kami para operator spaneng atau begitu kaku dalam bekerja, terkunci kontak mata dengan monitor dan data-data yang tertampil disana. Tertawapun terkadang tak sempat.

Bersyukur setiap kesusahan, setiap kepenatan yang dialami dapat terobati oleh beberapa hal. Dari rekan kerja yang ramah dan asyik untuk bercanda, dan rekan kerja yang memang memukau mata dan hati.

Dialah Lu’lu, gadis manis berkacamata yang seumuran denganku. Umurku dan dia hanya berjarak 2 bulan saja. Seringkali aku menjadikannya alasan untuk bertahan dengan pekerjaan yang membosankan ini. Karena dialah hari-hari terkadang terasa lebih berseri. Senyumnya yang terukir manis karena ketulusan hati dan keindahan sifat yang dia miliki.

Lelaki mana yang bisa berpaling dari dia? Hampir semua bujangan di kantor tempatku bekerja yang terpana olehnya. Anggun saat dia berjalan, lembut saat tawanya terkekeh. Sempurna. Mungkin aku terlalu berlebihan memuji kecantikannya, atau memang beginilah adanya dia dengan segala keindahannya.

Aku tidak berharap lebih. Aku kembali menata mindset-ku, aku hanya suka. Aku hanya mengidolakannya. Setidaknya jangan sampai ke tahapan lebih jauh dahulu. Karena akupun tahu. Bahwa dia, sudah memiliki idaman hatinya sendiri.

Pupus.

Remuk hati saat mengingat dia telah bersanding dengan lelaki lain. Tapi, apa dikata? Aku dan lelaki lain di luar sana mungkin tidak lebih baik dari laki-laki yang beruntung itu.

Kembali harus ku tegaskan pada diriku sendiri. Aku hanya suka dan mengidolakannya. Tidak (boleh) lebih.

Lu’lu Ul Jannah. Nama indah dari seorang gadis manis nan rupawan, bunga muda yang merekah menebar pesona. Sederhana namun sempurna.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s