Mi | Gadis Yang Istimewa

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

 

Selamat siang… (soalnya gue mulai ngetiknya masih siang). Mau sedikit curhat. Silahkan yang mau baca, mungkin nyiapin cemilan bisa membantu buat menikmati bacaan yang satu ini.

Facebook, setiap orang pasti tahu apa itu facebook. Gak perlu gue jelaskin panjang lebar, yang secara garis besar facebook itu adalah sebuah media sosial yang begitu populer di dunia untuk beberapa tahun belakangan bahkan sampai sekarang kepopulerannya masih belum redup, meskipun sudah semakin banyak media sosial lain yang berkembang. Sebuah media sosial adalah sebuah ruang lingkup di dunia maya (internet) yang bisa menghubungkan seseorang dengan orang lain dengan jarak yang jauh dan mempertemukan dengan teman yang sudah lama tidak bersua. Tapi, sering juga media sosial menjadi sebuah boomerang bagi pemakainya, jika tidak benar-benar bijak dalam menggunakannya. (Pada akhirnya cukup panjang lebar😀 )

Media sosial bisa menimbulkan sebuah kriminalitas, namun juga bisa membangun sebuah romansa. Banyak orang di dunia mungkin yang sudah menemukan jodohnya dengan perantara media sosial seperi facebook ini. Dan gue mengalami yang romansa. (ciyeee)

Suatu ketika, saat gue sedang menjomblo (dan itu kebiasaan gue) gue rajin bangen Online di media sosial yang satu ini. Gue waktu kerja di sebuah warung internet atau sering disebut warnet. Dengan fasilitas internet gratis, tentu gue bisa dengan leluasa mainan medsos dan browsing-browsing sesuka hati gue. Hingga suatu ketika, pas gue lagi demen-demennya sama Jejepangan gue jadi sering nge-search page yang juga menyediakan info-info atau foto-foto yang berkaitan dengan hobi baru gue ini.

Di sebuah postingan yang sedang gue baca, biasanya setelah selese gue bakal nge-scroll mouse ke bawah buat baca-baca komentar dari user/member lain.

Cowok.

Cowok.

Cowok.

Cewek.

Cowok keCewekkan (?)

Cewek (hmmm sedikit memicingkan memperhatikan thumbnail foto profil yang kecil, ‘ah gak terlalu kawaii (cute)). Scroll lagi.

…set!

Gue berhenti di sebuah nama yang cukup unik. A.K.J (gue samarkan untuk kepentingan privasi), gue perhatiin thumbnail foto profilnya. Waktu itu kalo gak salah dia masang foto-nya Hinata-hime (karakter di anime: Naruto). Seorang gadis cantik, kalem, dengan rambut hitam panjang. Gue menjadi penasaran, dan iseng-iseng buka profil lengkapnya. Insting “menguntit” gue langsung ON. Gue buka album fotonya.

Yak!

Bingo!

Ada foto aslinya. Gue perhatiin. Perhatiin. Perhatiin. Yep! Cukup manis dan cantik.

Gue kembali ke tampilan awal profilnya, dan….gue ADD.

Gue gak terlalu berharap dia langsung menerima permintaan pertemanan gue, karna gue tahu waktu terakhir dia update statusnya itu bukan pada jam dan hari dimana gue buka profilnya, jadi bisa dipastikan dia sedang tidak Online waktu itu.

Selese ngestalk doi gue melanjutkan hunting info-info dan juga cewek-cewek yang suka Jejepangan lagi. Ada beberapa cewek lain yang iseng-iseng gue add. Gue menjalani aktifitas seperti biasa, netting, shift kerja kelar-gue pulang. Tidak ada fikiran bahwa cewek-cewek yang udah gue add bakal nerima permintaan pertemanan dari gue, orang yang standar aja, cakep kagak, tinggi kagak, putih juga enggak. Pas aja. Pas jeleknya, pas tingginya eh pas pendeknya T.T . Ya begitulah gue, tapi tetep gue syukuri kok.🙂

Keesokan harinya gue berangkat kerja seperti biasa, menjalani aktifitas seperti biasa. Dengan muka gue yang juga biasa. fiuhhh

Ctak! Ctak! Ctak!

Gue mulai mengetikkan f-b-.-c-o-m. Dan tidak berapa lama, masuklah gue ke cyber world setelah log in pake username dan password account gue.

Ada beberapa notif di profile facebook gue, dari invite-an game, kiriman hadiah di game, like, komen, dan….”A.K.J. menerima permintaan pertemanan Anda” (kurang lebih gitu bahasa Indonesianya, soalnya kalo gak salah waktu itu gue masih pake settingan bahasa Inggris). Gue sumringah, senyam senyum sendiri. Dan tidak berfikir lama, gue langsung nge-PM cewek tersebut. Dia tidak online waktu itu, jadi tidak langsung membalas ucapan : “Konnichiwa🙂 ” gue. Baru pas siangnya dia online dan itu berarti dia sudah pulang sekolah, karna waktu itu dia kelas XII SMK di suatu daerah. Dia membalas, gue balas lagi. Dan mulai berkenalan. Begitulah, semua terjadi dengan lancar tanpa kendala apapun.🙂 *sukses

Jurus gue waktu itu adalah, gue gak minta nomer hp.nya dia (kalo gak salah) tapi justru gue yang ngasih nomer gue sendiri (gila PD abis gue😄 ), dengan dalih “Kali aja mau sms ini nomerku 083xxxxxxx”.

Hingga akhirnya pada suatu hari yang indah nan cerah, masuklah sebuah sms berbunyi : “Kinnichiwa”

Dan itu nomer baru (belom disave di kontak hp), gue langsung bertanya-tanya apakah ini nomer cewek itu?. Gue bales, seperti biasa dan akhirnya ngobrol-ngobrol kesana kemari. Sampe telfon-telfonan, dan ketawa ketiwi bareng. Nyambung, asyik, gue menemukan belahan jiwa gue (pikir gue waktu itu).

Hubungan kami berjalan lancar, sangat lancar menurut gue malah. Hingga akhirnya pada suatu tanggal istimewa menurut gue yaitu tanggal 16 Agustus 2014, gue kembali nembak dia karna sebelumnya pernah nembak tapi gak langsung dijawab sama dia dan kita akhirnya cuma temenan waktu itu, dan saat inilah momen terbaik. Kita udah kenal lama soalnya waktu itu, baru dech diresmikan hubungan kami berdua. Layaknya orang pacaran, kami semakin intens buat sms-an dan kadang ketemuan. Untuk ketemuan kita gak bisa sebulan sekali, bisa lebih dari itu kita baru bisa ketemu. Yah, begitulah, LDR.

Kami sering menjadikan Kota Purwokerto sebagai tempat kami untuk bertemu dan sedikit jalan-jalan bersama, makan bersama, yah menikmati suasana bersama-sama gitu dech. Mi adalah seorang cewek berperawakan kurus dan tinggi badan sekitar 160-an, masih tinggian dia dikit dibanding gue kayaknya, kalem dan lebih relijius dibandingkan gue yang ngejalanin idup dengan cara seadanya (baca: idup-idupan). Gue merasa sangat beruntung bisa dapetin dia, cewek yang sholehah (meskipun dia akhirnya pacaran ama gue), baik dan cukup dewasa untuk ukuran cewek yang 2 tahun lebih muda dari gue.

Pertama kali kami ketemuan, dia yang nyamper gue, dan gue gak berani sama sekali terlalu dekat dengan dia maupun pegang tangan dia. Ya maklum, waktu itu ada temennya yang nemenin dia buat ketemu gue. Mungkin takut gue culik?😄

Setelah pertemuan pertama kami gak berapa lama gue hijrah ke Semarang, nyoba-nyoba kayak temen-temen gue yang lain: merantau. Di Semarang gue tinggal bareng temen gue Iki, dan kita ngekos di deket kantor tempat kami kerja. Gue jadi ngejalanin hubungan gue ama Mi menjadi LLDR ( Long Long Distance Relationship) , yep , soalnya jarak kami berdua semakin terbentang jauh. Cuma bisa sms.an seperti biasa. Waktu itu kami belum resmi pacaran, cuma temanan aja gitu tapi mesra :v .

Semarang merupakan kota yang umumnya sebuah kota, panas dan rame. Pengalaman pertama gue tinggal di sebuah kota gede, dan Semarang memang salah satu destinasi kota gede yang pengen gue tinggalin. Namun gue gak betah lama di sana, disamping kerjaan yang rupanya gak terlalu cocok sama gue, juga karena gaya hidup temen gue yang sering bikin gue dongkol. Daripada gue semakin gak betah dan stres, akhirnya gue putuskan buat balik ke kampung.

Tanpa memberi tahu Mi secara langsung gue udah di rumah aja selama hampir satu bulan, hingga akhirnya gue ajak dia buat ketemuan lagi. Sebelumnya dia gak percaya gitu kalo gue mau ngajak ketemuan, dia ngira gue masih di Semarang dan akhirnya gue cerita juga kalo gue udah balik kampung. Pada hari Senin gue inget banget, gue ajak dia ketemuan. Kita bertemu di Purwokerto, gue ndompleng kakak kelas gue dulu di SMK yang memang kerja di Purwokerto dan setiap Jum’at sore dia balik dan berangkat lagi hari Senin. Gue ama Mi memutuskan untuk bertemu di sebuah pusat perbelanjaan yang sering dikenal dengan nama Sri Ratu, meskipun gue yakin banget pas gue dan Mi masuk ke tempat itu di depan tulisannya bukan Sri Ratu. Oke itu gak terlalu penting. Niat awal gue ke tempat itu buat ke Gramed, gue mau belanja buku yang udah gue pengenin sejak lama yaitu buku-buku Raditya Dika.

Di pertemuan-pertemuan berikutnya pun seperti itulah kebiasaan kami, ke Gramed atau ke alun-alun dan makan di Mayashi Ramen. Yups… tempat makan favorit gue kalo ke Purwokerto sampe sekarang. Mi juga udah dua kali ke tempat tinggal gue, yah…karena kadang bosen juga kalo ketemu di Purwokerto mulu sich.

Dari belasan bahkan ratusan sms yang gue kirim ke dia, dan ratusan balasan juga dari Mi bisa dipastikan obrolannya itu-itu aja. Cerita kehidupan kami berdua juga layaknya orang normal, tidak selalu ada kejadian yang mengena di pikiran yang aneh-aneh atau terlalu keren. Sehingga seringkali kami kehabisan bahan obrolan. Gue yang rupanya memang tidak pandai mencari bahan obrolan, dia yang memang pada dasarnya kalem. Batu ketemu batu. Dijejerin. Diem aja udah kek gitu sampai benar-benar ada sesuatu yang menggerakkan secara sengaja maupun tidak.

Stuck. Mungkin itu kata yang pas buat hubungan kami berdua. Gak ada kemajuan yang berarti, meski kadang gue gombalin dia kalo-kalo kita nikah dan sebagainya, tapi tetep aja berasa hambar. Justru malah pada akhirnya hubungan kami gak seintensif kayak dulu. Kami menjadi jarang telfonan, disamping karena memang gue yang gak terlalu hobi tapi juga malas untuk harus mencari bahan obrolan. Hampir selalu ada hening di setiap sesi telfonan, dan itu berasa gak enak banget.

Seperti halnya cewek pada umumnya, mereka pasti ingin mendengar suara kekasihnya di telfon, meskipun mereka juga sering ketemu. Bagitupun Mi, seringkali dia minta gue buat telfon atau dia sendiri yang nelfon. Namun, berakhir dengan alasan gue yang gak ada pulsa maupun teralihkan dengan kesibukan lain yang akhirnya gagal buat telfonan. Gue sering menganggap telfonan bukan suatu hal yang penting dalam sebuah hubungan. Entah mengapa? Tapi begitulah sifat gue, kadang susah dimengerti (bahkan oleh gue sendiri).

Sebagai cewek yang lebih relijius dari gue, dia sering ngingetin gue buat beribadah dan bahkan pernah menyuruh gue buat ngaji. Memperdalam ilmu agama gue memang hal yang penting. Karena kalo kami menikah, gue lah yang menjadi imam, gue yang ngebimbing dia, gue yang jagain dia, dan jika kami punya anak gue juga bertanggung jawab buat mengajarkan ilmu agama ke anak gue.

Berat juga bagi gue yang notabene cowok biasa saja untuk mengimbangi Mi yang cewek sholehah. Gue sering merasa takut. Takut karena apa yang nantinya menjadi kewajiban-tanggung jawab gue di atas gak bisa gue penuhin. Gue belum bisa menjadi laki-laki yang baik/sholeh buat dia. Ilmu agama gue yang masih lebih rendah dari dia. Menjadikan gue tereliminasi paling awal jika ada seleksi suami yang ideal buat Mi.

Seiring berjalannya waktu, Mi menjadi lebih fleksibel, dia menjadi nampak cewek ‘biasa’ pada umumnya. Ketakutan yang pernah gue rasain sedikit demi sedikit mengikis. Gue berpedoman: “gue bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi kalo sama dia.”

Namun rupanya ketakutan itu bersembunyi hanya sekejap. Ketakutan kembali merajai pikiran gue pada saat gue lagi sms-an dengan Mi. Kala itu dia curhat merasa tidak enak dan gak karuan-gak nyaman. Setelah gue gali dengan beberapa pertanyaan, rupanya dia mengaku sedang bermuhasabah. Yang artinya menghisab atau menghitung dosa-dosa apa saja dan amalan-amalan apa saja yang telah dilakukan pada diri sendiri sampai saat itu. Mi merasa banyak dosa. Gue down, karna gue tahu gue jauh lebih buruk dari dia. Gue bukan orang yang cukup baik buat dia. Inilah yang sering bikin gue stress sendiri.

Hari Minggu, 08 Maret 2015, kami ketemuan untuk kesekian kalinya di Purwokerto karena dimalam sebelumnya kami sudah ngobrol via sms buat jalan-jalan dan membelikan dia sepatu. Kami pergi ke sebuah tempat perbelanjaan yang menyediakan berbagai macam kebutuhan pribadi, dari mulai baju, celana, kaos, jaket, dan sebagainya.

Muter-muter cukup lama, dari yang tadinya mau liat-liat sepatu doank kami justru malah muter-muter di tempat baju. Yang pada akhirnya dia beli tas. Gak nyambung banget emang. Dari niat beli sepatu, nyoba-nyobanya jaket, belinya tas. Tapi di hari itu gue seneng banget, setidaknya gue merasa hubungan kami rupanya masih baik-baik saja meskipun udah jarang ngobrol via telfon maupun sms. Gue dan dia udah sama-sama kerja, dan kadang disibukkan dengan kerjaan masing-masing.

Seminggu dari Purwokerto bareng Mi, gue kembali lagi ke kota itu bareng temen yang lain. Mauph gue bonceng pake motor Shu gue dan karena gue belom hafal jalan, dialah yang menjadi navigator gue. Minggu ini gue sempetin ke Gramed buat beli buku terbaru Raditya Dika yaitu Koala Kumal, dan juga komik periodik Re:ON volume 8 dan 9. Hari-hari berikutnya gue baca-baca buku Koala Kumal tersebut, gue sedikit banyak terenyuh dengan cerita-cerita yang disampaikan Dika dalam bukunya itu. Penuh dengan cerita patah hati.

Semasa gue baca buku Koala Kumal tersebut gue sering mikir, dan ngebayangin saat-saat gue putus dengan mantan-mantan gue. Ada yang langsung ngilang gitu aja, dan sampe sekarang gue nulis ini masih belum tahu kabarnya gimana. Ada yang mutusin gue dengan dalih gue ngerusak pribadinya dan gak berapa lama gue tahu dia udah jadian sama mantannya yang lain. Gue manjadi sedikit bernostalgia dan kembali membayangkan rasanya diputusin cewek.

Entah semua itu berkaitan atau enggak, gue baca cerita penuh patah hati dan malam minggu tanggal 21 Maret gue ngumpul bareng temen-temen SMK di rumah Sod. Gue sms dia mencoba bercanda kalo gue udah pengen ngerokok lagi. Ya, gue dulu waktu SMK pernah ngerokok. Masa-masa nakalnya gue. Dia cuma membalas nampaknya cewek yang ngambek, ngebolehin tapi dengan syarat gue harus nelen asepnya. Gue seneng dia nanggepin candaan gue. Gue bayangin dia lagi manyun-manyun unyu di rumahnya.

Besoknya pada hari minggu gue pulang dari rumah Sod. Atasan ibu gue lagi di rumah, yaitu Mbah Wir dan Mbak Tami. Mereka habis menginap di rumah mereka yang selama ini gue dan keluarga gue tinggali. Ibu gue adalah PRT bagi mereka dan merawat rumah mereka yang satu ini.

Gue disuruh mengantar Mbak Tami ke kota, katanya ada acara. Gue bawa Shu dengan tenang dan nyaman seperti biasa. Pagi hari ada sms dari Mi yang berbunyi: ‘Ohayou’ yang artinya ‘selamat pagi’. Gue senyum, tumben dia mau sms duluan pikir gue seneng. Setelah mengantar Mbak Tami (yang sebenernya lebih muda dari gue sich, tapi namanya sendiko dawuh lah ibaratnya) gue mampir ke kantor tempat kerja gue yang memang tidak jauh dari kota. Di depan gerbang kantor gue liat layar hp sebentar, ada beberapa sms masuk. Tanpa dibaca terlebih dahulu gue masuk ke area parkir setelah pintu gerbang dibukakan satpam yang sedang bertugas. Mas Dedi namanya. Dia mengira gue habis kencan yang gue jawab dengan ketawa ‘hahaha, kencan sama siapa. Orang abis nganter anaknya juragan.’

Setelah sedikit mengobrol dan gue bilang mau masuk ke ruangan tempat kerja gue buat ngambil sesuatu, gue baru sempet buka hp. Mas Dedi minta gue buat nunggu di pos karena dia mau beli makan siang keluar sebentar yang gue iyakan dengan senang hati. Betapa terkejutnya gue saat membaca sms dari Mi.

Saya mau kita putus.. Saya takut sama Allah, malu saya.. Trus jangan sering2 sms saya lagi.. Sebelumnya saya minta maaf banget.. Saya gak mau nambah2in dosa, udah banyak banget..

Shock!

Luluh lantak rasanya hati gue. Dengan mencoba tenang gue cuma membalas:

Ya udah kalo emang itu keputusanmu, aku ngehormatin itu..

Ya maaf juga udah banyak salah..’

Send.

Dan kami resmi putus. Kalo kata Dika di salah satu judul di bukunya, “sesimple itu kami putus”. Begitu juga dengan gue dan Mi. Sesimple itu.

Namun tidak buat perasaan gue. Lemas dan tak berdaya rasanya untuk bangkit berdiri. Seperti ada batu besar yang menindih batu ini, menjadikannya semakin tak berdaya untuk bergerak. Gue batu yang gak goyah sama angin kencang sekalipun, gue merasa semua berakhir. Gue merasa gak ada gunanya gue untuk melangkah maju jika cuman sendirian tanpa seseorang yang menyertai. Gue merasa mundurpun udah gak sanggup, karena gak ada yang menyambut gue kembali.

Meskipun gue merasa gak lagi berarti buat dia, kadang gue berfikir apa ini ujian dari Mi buat gue. Apakah dia mencoba menguji keseriusan gue? Dengan menginginkan gue buat langsung ngelamar dia tanpa harus berlam-lama pacaran. Tapi gue kembali tersadar, gue belum siap. Gue belum pantas buat meminangnya. Diapun nampaknya lebih memilih menunggu laki-laki lain yang lebih baik dari gue, yang pantas untuk menjadi imamnya.

Gue kembali merasakan sakit hati. Kembali merasakan pedihnya kehilangan sesuatu yang berharga. Kembali merasakan cinta yang gue junjung, dijatuhkan dengan sekali sentuhan lembut namun pada akhirnya hancur tanpa sempat mencoba meraih puncaknya lagi. Gue gak bisa membela diri, dan meminta hubungan kami untuk sedikit lebih lama lagi dipertahankan. Gue keburu tersadar bahwa gue memang ‘Bukan laki-laki yang cukup baik buat Mi.’

Satu hal yang gue bisa ambil pelajaran dari pengalaman hidup gue bersama Mi adalah, wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Dan Mi, terlalu baik buat gue. Dan gue, harus menjadi lebih baik ke depannya dan menemukan belahan jiwa gue yang sebenarnya. Allah udah memisahkan kita dengan cara yang terbaik, itu yang gue tahu. Mi adalah cewek yang sangat istimewa .

 

Goodbye Mi, you are so special for me, and don’t you know? I’m still loving you ’till I don’t know yet when.

Hope you find the best for your life. Hope you can find the best man soon.

Terima kasih untuk 7 bulan yang indah ini. 16 Agustus 2014 – 22 Maret 2015.

 

Gue akhiri tulisan gue (baca: curhatan) ini.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

*Terhitung dari tanggal 23 Maret 2015 gue nulis ini dan selesai pada tanggal 25 Maret 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s