Sapaanku

Cowo : Bukannya dulu kita pernah bertemu?

Cewe : Dimana?

Cowo : Entahlah aku lupa, tapi setidaknya yang kuingat adalah ini bukan kali pertama kita bertegur sapa.

Cewe : Benarkah?
Cowo : dejavu kah?
Cewe : Hmm…Emang waktu itu aku abis ngapain?

Cowo : Ya kayak tadi, baru belanja buku-buku di toko depan sana.

Cewe : Buku yang sama?
Cowo : Ya enggaklah, eh brati karna gak sama bukan dejavu. Nah kan, kita udah pernah ketemu sebelumnya.

Cewe : Namamu siapa? Sebelumnya sudah sempat kenalan?
Cowo : Tentu saja belum, kali pertama ketemu masa langsung ajak kenalan, kan masih asing satu sama lain.

Cewe : Bener juga sich, ya udah kalo gitu kenalin aku Selvy anak kampung sebelah. Kamu?

Cowo : Rezky, panggil Kiki aja juga bisa.

 

   Mereka berduapun akhirnya mengakhiri obrolan tersebut. Dalam perjalanan pulang si Cewe (baca : Selvy) masih merasa bingung, karena dia merasa belum pernah bertemu laki-laki tadi. Semula saat dia ke warung yang dia ingat hanya jalanan sepi-sepi seperti biasa. Kenapa sekarang dia bertemu laki-laki yang baru dia temui dan justru berfikir bahwa mereka berdua pernah bertemu sebelumnya.

   Selvy sedikit memanyun-manyunkan bibirnya, ingatannya coba dibongkar-bongkar supaya jelas apakah memang hanya dia saja yang lupa atau sebenarnya memang ini kali pertama dia bertemu laki-laki bernama Rezky itu. Selvy mengernyitkan dahinya sembari menutup rapa kedua matanya. Menelusur jauh ke dalam ingatannya. Ruang gelap di pikirannya itu nampak sangat jauh dan dalam. Dan kegelapan itu semakin terang, secercah cahaya mulai menyeruak dalam ingatannya.

   Tidak mungkin! Selvy berteriak kecil. Dia terkejut dengan apa yang baru saja dipikirkannya, nampak seperti sebuah rekaman dimana ada sebuah sketsa dirinya berpapasan dengan Rezky. Entah apa yang terjadi, dan dalam ingatannya itu dia merasa bahwa kejadian itu telah berlalu baru beberapa hari yang lalu. Namun dia lupa total. Dia merasa tidak enak dengan Rezky. Dia takut dirinya dianggap gampang melupakan orang yang mencoba baik padanya.

“Ki..!” Selvy membalikkan badan dan berteriak memanggil Rezky.

“Eh?” hanya saja, sosok Rezky sudah tidak nampak. Apakah langkahnya begitu panjang? Cepat sekali ngilangnya, pikir Selvy dalam hati.

“Ah sudahlah” Selvy menyunggingkan senyum sembari menutup matanya lembut dan membalikkan badannya untuk melanjutkan langkahnya pulang yang sempat terhenti. Betapa terkejutnya Selvy saat mendapati dirinya menabrak badan laki-laki yang berada tepat di depannya.

“Aduh..!” jerit Selvy, “Maaf, maaf, maaf, agak meleng tadi” betapa tidak enak hati Selvy pada orang yang di’seruduk’nya barusan.

“Oh gak papa, kamu gak papa? Ada yang sakit?” terdengar suara lembut nan tegas dari seorang laki-laki yang tidak lain orang yang ditabrak Selvy barusan.

“Gak papa, gak papa.” jawab Selvy.

Tanpa memandang wajah laki-laki tadi, Selvy bergegas melanjutkan perjalanannya.

Keesokan harinya,

“Aku pergi dulu ya ke warung deket jalan raya sana..!” dari sebuah rumah sederhana nampak seorang gadis remaja berparas cantik dengan rambut pendek sebahu (seperti polwan) berpamitan kepada kedua orang tuanya dan melangkah keluar.

“Pak, apa gak papa dibiarkan pergi sendirian? Nanti kalo…” suara sang ibu nampak sesak dan sedih.

“Bapak tahu bu, ya sudah biarkan saja. Itu sudah menjadi pilihan dia, supaya bisa tetap dekat katanya” jawab sang bapak dengan sabar. Namun tidak bisa dipungkiri dari sorot mata dan raut wajah mereka tidak menunjukkan kebahagiaan. Justru kekhawatiran dan sedih.

    Gadi beramput pendek itu telah membeli buku tulis dan beberapa buku nota kecil lainnya dari warung. Gadis itu membeli buku-buku itu (lagi).

    “Yo…” sapa seorang laki-laki yang umurnya nampak tidak jauh berbeda dari Gadis berambut pendek itu.

    “Ah, ya… Ada apa ya?” tanya gadis itu polos.

    “Belanja buku lagi?” tanya laki-laki itu.

    “Lagi? Tidak kok, baru hari ini. Karena memang lagi ada tugas sekolah. Kenapa?” jawab gadis itu sedikit bingung.

    “Hmm.. Begitu ya? Hehe, maaf, sok kenal gini,” laki-laki itu meringis sedikit tersipu. “Anak mana? Kayak gak asing wajahnya,” lanjut laki-laki itu dengan tersenyum ramah.

    “Anak kampung sebelah, baru pindah kok,” jawab gadis itu.

    “Ow gitu, hm… Namaku Rezky, biasa dipanggil Kiki, kalo kamu?” tanya laki-laki itu.

    “Selvy,” jawab gadis itu singkat.

    Tanpa babibu, gadis itu kemudian pergi meninggalkan laki-laki itu. Rezky tidak menoleh sedikitpun, bibirnya menoreh senyum tipis. Alis sedikit datar dan matanya sedikit lebih sayu. Pandang kosong.

    Tanpa disadari matanya berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak. Nafasnya mulai berat.

    “…… Aku sayang kamu” kalimat tersebut terucap lirih dari bibir Rezky. Pipinya mulai berlinang air mata.

    Selvy rupanya gadis yang mengalami suatu keadaan dimana yang telah terjadi hari itu. Ingatannya hanya berkisar pada saat dirinya dan keluarganya baru berpindah ke desa tempat tinggalnya saat ini. Penyakit tersebut dideritanya sejak sebulan yang lalu, setelah kecelakaan yang menimpa dirinya dan Rezky.

    Kini Rezky hanya melakukan kegiatan yang sama, setiap jam 9 siang keluar rumah dan menunggu Selvy pergi ke warung untuk beli buku. Dan sepulangnya dari warung Rezky akan menemuinya, dari secara sok akrab ataupun benar-benar tidak kenal dan akhirnya mengajak kenalan. Ini jalan yang dipilihnya agar dirinya bisa selalu dekat dengan Selvy, calon tunangannya. Meskipun entah kapan digelar pernikahan mereka.

TAMAT

*Cuma iseng. Rewrite dari mungkin beberapa sinetron atau film yang pernah mengangkat tema cerita seperti di atas.

Create Your Own Story, Create Your Own Imagination..!

 

h

#Iseng Monggo dibaca, atau #abaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s