Cindy Gulla (?) – Part 4

Part 4

“Hoahmm… “

Pagi ini langitnya cerah, udara pagi ini seperti pada umumnya, cukup dingin. Aku terbangun karna mendengar suara Azan dari Mushola dekat rumah yang ditinggali Pak De dan Bu De-ku. Aku mendudukkan diri dan mengumpulkan tenaga dulu setelah bangkit dari tempat tidurku dan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan diteruskan sholat Subuh.

“Belum pada bangun ya?” gumamku saat melintas di depan kamar tempat istiraha Pak De dan Bu De. Mereka masih terlelap dalam tidurnya. Biasanya Bu De tidak lama lagi terbangun untuk menyiapkan segala keperlua, entah itu sarapan atau perihal yang menyangkut pekerjaannya.

“Mau nonton acara musik lagi apa nggak Ful?” tanya Bu De-ku yang rupanya terbangun saat mendengar aku menutup pintu kamar mandi. Apa pedulinya sampai tanya-tanya hal itu ya? Mungkin supaya ada obrolan di antara kami, hehe. “Hmm.. gak tau ntar, kayaknya si nonton lagi.” jawabku dari dalam kamar mandi yang sudah mulai membuka keran air untuk berwudhu.

“Mau sendiri apa sama Pak De?” tanyanya lagi. Karna sedang wudhu aku tidak langsung menjawabnya, baru setelah selesai berwudhu aku langsung memberikan jawaban. (Berasa ngomongin apa ya?😀 )

“Emang Pak De mau kemana? Emangnya mau nonton juga?” jawabku. Aku menggapai handuk yang masih ada di tumpukkan jemuran dan kugunakan untuk mengusap wajahku untuk sedikit mengeringkan.

“Gak tau itu. Kayaknya si mau ikut nonton juga, daripada gak ada kerjaan katanya” jawab Bu De Atin yang sekarang sedang berdiri di depan kompor dan mau memasak air.

“Oh ya udah kalo gitu barengan aja ntar brati” jawabku lalu bergegas masuk ke tempat sholat dan mengenakan sarung.

Selesai sholat aku keluar rumah dan menarik nafas dalam-dalam untuk menikmati pagi yang cerah. Udaranya segar. Aku berjalan menuju ke persimpangan jalan yang tidak jauh dari rumah. Disana kulihat banyak orang-orang sedang berolahraga, ada yang lari pagi, bersepeda, bermain skate board dan yang lainnya.

“Huahh… di sini masih banyak orang suka olah raga. Gak kayak di kampung malah.. ckckck” gumamku.

Lalu berselang kemudian melintaslah seorang gadis yang sedang jogging bersama satu temannya yang sama-sama seorang gadis, dan mereka berdua kuperkirakan seumuran. Meski hanya sekilas melihatnya, dan kini hanya bisa melihat bagian belakang badannya tapi aku tidak asing dengan gadis itu. Aku pernah melihat dan bahkan menemuinya. Namun, apakah benar apa yang aku pikirkan?

“Hy…!” seruku mencoba memanggil gadis tadi berharap dia merasa terpanggil dan menoleh sehingga aku bisa memastikan siapa dia. Benarkah gadis yang sudah tidak asing lagi wajahnya bagiku atau hanya orang lain yang kebetulan memiliki ciri yang hampir sama.

Gadis itu nampak tidak mendengar, dan pastinya dia tidak merasa bahwa dirinya aku panggil kala itu. Aku memutar otak dan mencari akal agar bisa memastika. Aku sudah kadung penasaran, apakah dugaanku benar atau tidak? Dengan tanpa menghiraukan rasa malu dengan banyaknya anak-anak yang sedang bermain skate board di taman seberang jalan aku kembali memanggil gadis itu, kini aku panggil dengan warna kaos yang dikenakannya.

“Hei kamu, yang pake kaos putih. Cewek yang lari berdua itu!” seruku lagi. Anak-anak yang sedang bermain skate board nampak heran denganku dan beberapa dari mereka kemudian melihat ke arah gadis yang ku panggil dan menjadi mengerti apa maksud dari yang kulakukan, sehingga mereka kemudian menertawakan tingahku.

“Hahaha, ada orang aneh. Manggil-manggil cewek kece kek gitu! Gak punya malu kali ya?” celetuk salah seorang dari ke-6 anak yang sedang bermain skate board itu. Aku sedikit melirik ke arah mereka berenam dan mukaku menjadi agak memerah karna malu, namun aku mencoba menutupinya dengan berjalan dan mendekati gadis tadi yang pada akhirnya berhenti karna sadar dialah yang aku panggil. Dia menoleh, begitu juga temannya yang mengenakan kaos hijau. Teman gadis itu terlihat berbisik pada gadis yang kini aku benar-benar bisa mengenalinya dan tidak lain memang dia gadis yang pernah aku temui. Gadis manis dengan senyumnya yang menyejukkan hati. Rambut yang diikat twin tail itu benar-benar cocok untuknya dan menambah manis dirinya. Layaknya bidadari yang turun dari kahyangan dia membuatku terpukau. Temannya memang tidak kalah cantik, tapi tetap gadis itu yang membuatku seperti terhipnotis dan tak sadar dengan apa yang aku lakukan. Memanggil-manggil orang yang belum dikenal seenaknya, dan dengan cara yang bisa dibilang tidak sopan.

“Aku?” tanyanya agak sedikit takut atau canggung. Dia nampak gelisah saat aku melangkah semakin mendekati dia dan temannya itu.

“Kamu kenal dia Cin? (read: Sin)” kudengar temannya berbisik menanyakan suatu hal pada gadis tersebut. Aku sedikit kaget saat mendengar bagaimana temannya memanggil gadis itu. Cin? Apakah itu namanya? Siapa lengkapnya Sinta kah? Sindy kah? Aku sedikit bertanya-tanya di sepanjang langkah kakiku. Hingga akhirnya aku berhenti tepat kurang lebih 1,5 meter di depannya.

“Kamu yang waktu itu kan?” tanyaku sembari mengulurkan tangan mengajak salaman. Dia melirik temannya dan perlahan menyabut telapak tanganku dan kami saling berjabat tangan.

“Aku Saeful, nama kamu siapa?” lanjutku.

“Cindy,” jawabnya dengan sedikit malu-malu. Namun dia juga agak bingung sepertinya melihat tingkahku. Begitu juga temannya.

“Sin, dia beneran gak tau kamu apa cuma aliby tuch?” bisik temannya.

“Gak tau. Udah diem aja dulu,” kudengar seperti itulah mereka berbisik. Aku hanya sedikit menundukkan kepala dan melihat ke arah lain. Aku salah tingkah, berkenalan dengan gadis semanis itu dan cara yang kulakukan cukup memalukan. Tidak pantas dikatakan perkenalan yang indah, lebih ke perkenalan yang buruk, sangat buruk, tidak sopan, tidak beretika. Dasar! Aku ini bodoh sekali. (gerutuku dalam hati, memaki diri sendiri atas kebodohannya)

“Kamu emang gak kenal dia?” tanya teman Cindy kepadaku. “Hush!” bentak Cindy lirih mencoba melarang temannya bertanya.

“Eh? Maksudnya?” aku bingung sambil senyam senyum gak jelas. ‘Maksudnya gimana nich? Kan emang baru kenalan’ pikirku dalam hati.

“Ya gak lah. Waktu itu juga mau ngobrol-ngobrol plus kenalan malah gak sempat, dia buru-buru kayaknya.” jelasku sembari menggaruk bagian kepala belakang. “Memangnya kenapa?”

“Oh.. ndak papa” timpal teman Cindy sambil tersenyum.

“Ya udah ya, udah lumayan siang aku mau pulang” kata Cindy berpamitan.

“Oh ya, hati-hati ya” jawabku sekenanya.

Cindy dan temannya kembali berlari. Mereka semakin jauh, jauh, dan jauh hingga di suatu persimpangan jalan mereka sudah tidak nampak lagi. Aku tersenyum senang, akhirnya aku tahu siapa nama gadis manis dengan rambut gaya twin tail itu. Sebenarnya tidak terlalu mengharapkan untuk berkenalan dengannya, tapi saat melihatnya lagi pagi itu, aku spontan ingin berkenalan.

Aku kembali ke rumah dengan sumringah dan wajah berseri.

“Benar-benar hari yang indah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s