Cindy Gulla (?)

 

Senyumku melebar seiring tau siapa dirinya sebenarnya. Tapi di lain hal ada sesuatu yang pastinya akan menjadikan adanya jarak diantara kami. Mungkin lebih baik jika aku tidak mengetahuinya sekarang, atau kapanpun. Tidak mengetahui detail seseorang terkadang lebih menjadikan suatu “hubungan” menjadi tetap erat, meskipun mungkin jadi ada satu atau dua hal yang menjadikan kedua belah pihak menjadi saling menutupi sehingga sengaja ataupun tidak menumbuhkan kebohongan. Mungkin memang sudah menjadi jalan bagi kami hal ini terjadi. Cuma itu yang kuyakini untuk saat ini, karna memang itulah yang terbaik bagi kami.

Tujuh bulan yang lalu tepatnya tanggal 12 Agustus 2012 pertama kali aku bertemu dengannya di suatu acara musik. Aku memang bisa dibilang sangat suka musik, namun untuk hadir dalam suatu konser atau acara on air di sebuah stasiun TV saat itu adalah kali pertama bagiku. Pada waktu itu kalau tidak salah adalah segment ke empat, 3 segment sebelum closing. Band yang ku tahu salah satu lagunya perform di depan para penonton yang ada di studio sekaligus di depan kamera-kamera. Aku dan penonton lainnya begitu menikmati alunan lagu yang mereka bawakan, tidak jarang satu dari kami ada yang bernyanyi dengan sangat keras layaknya ingin mengungguli suara sang vokalis.

“Ya ampun. Ya ja ngorong-ngorong mbok kang…” (Ya ampun. Jangan teriak-teriak juga kali mas…)

Namun teguranku rupanya tidak didengarnya, mungkin juga karena aku menggunakan bahasa daerahku. Hanya flat face yang nampak dari ekspesi wajahku. Dan pada saat itu juga ada seorang gadis yang berada tepat di belakangku, dia tersenyum dan sedikit cekikikan. (gak horror kok cekikikannya). Aku terdiam dan memandangnya, melancarkan pandangan tajam agar dia berhenti cekikikannya itu dan menjadi malu. Namun apa yang terjadi tidak sesuai harapan, dia justru tersenyum manis ke arahku. Oh ya… benar-benar manis. Aku mengalihkan pandangan dan mencoba fokus menonton penampilan band tadi lagi.

“Eh? Udah jam segini. Balik ah” gumamku dan bergegas menerobos kerumunan di sampingku. Saat meninggalkan tempat tersebut aku mencuri lirikan ke arah gadis tadi berdiri. Sudah tidak ada. Aku merinding. ‘Setan kah?’ pikirku dalam hati.

-bersambung (?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s