Novel Q-Ta Knight’s Story Chapter 14

“Anak Itu…?”

Di taman dekat Gedung Pertemuan Organisasi. Redwin yang duduk di kursi taman berukuran cukup untuk tiga orang dengan ditemani tangan kanannya Sofkin yang memilih berdiri saja disampingnya nampak kesal dan menggerutu pada Sofkin. Redwin memang orang yang terang-terangan, dia tidak pandai menyembunyikan emosinya. Sehingga sering membuat keributan meski itu adalah acara formal. Lain hal dengan tangan kanannya, Sofkin yang tenang, tidak menjawab keluhan Redwin dengan kalimat yang hanya membuat Redwin semakin kesal. Sofkin memang tipe orang yang pendiam dan lebih sering menunjukkan wajah tanpa ekspresi. *Flat Face

“Bukan aku tak mau mendengarkannya dan menerima semua keputusannya. Tapi yang tidak ku mengerti kenapa harus memakai cara dieksekusi mati? Bukankah lebih baik berunding dan menjadikan beberapa dari mereka sebagai sekutu, sehingga menambah kekuatan kita untuk menjatuhkan bangsa DemVo yang mencoba menjajah kita?” keluh Redwin sembari duduk dan memegang lututnya erat, kepada Sofkin yang sedang berdiri di sampingnya.

“Dia terobsesi untuk diangkat Raja Zigrya sebagai Panglima Perang. Ku rasa itulah alasannya,” jawab Sofkin sembari mendongakkan kepalanya melihat langit yang nampak mendung.

“Jika tau begini tidak ku sia-siakan kepandaianku di Organisasi busuk ini jika hanya untuk membantunya mewujudkan obsesinya itu,” Redwin masih saja menggerutu. Dia bangkit dari tempat duduknya.

“Mari kita pulang. Aku lapar,” sambung Redwin.

“Hah.. Selalu saja. Baiklah, ayo kita pulang.” jawab Sofkin.

———Q-Ta Knight———

Di lain tempat,

Zing! *sabetan parang

Dicky terus berusaha menghindari setiap serangan laki-laki misterius yang berpakaian ninja itu. Hampir tidak ada kesempatan baginya untuk menyerang jika dengan jarak yang dekat. Dicky berusaha menjauh namun ‘Ninja’ itu bisa saja memojokkan Dicky sehingga hampir tidak ada kesempatan untuk Dicky menembakkan apinya. Berkali-kali Dicky hendak memukul Ninja itu, tapi dengan mudah Ninja itu menghindar. (ya namanya saja Ninja, pasti gerakannya cepat).

“Cih! Kampret! Kalo berani tangan kosong!” tantang Dicky yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.

*Srett!

“Dicky!!!” seru Saeful yang melihat Dicky terkena sabetan parang Ninja tersebut tepat di daerah pipinya.

“Kampret!” seru Dicky. “Ta*k!” mata Dicky memerah, menandakan dia benar-benar hilang kesabaran.

Dicky terus-terusan menembakkan apinya, meski hanya beberapa yang bisa mengenai Ninja tadi, itupun tidak memberi luka yang berarti. Hingga akhirnya Dicky mendapat peluang saat apinya berhasil mengenai parang Ninja tersebut sehingga Ninja tersebut secara reflek melemparkannya. Pada saat itulah Dicky menendang dada Ninja tersebut. Ninja itupun tersungkur.

Burn!!!” seru Dicky sembari menembakkan apinya tepat di wajah Ninja tersebut.

Ninja tersebut mengerang kesakitan, wajahnya terasa teramat panas. Saeful yang melihat Dicky telah berhasil mengalahkan Ninja tersebut langsung keluar dari persembunyiannya dengan girang. “Gile! Kejem lu kk!”

“Ngeselin nich orang,” jawab Dicky sembari menyunggingkan senyumnya kesamping.

Hanya saja, mata Dicky langsung terbelalak saat melihat Ninja yang tadi sudah berada di belakang Saeful dan bersiap menebaskan parangnya ke leher Saeful.

Dan….

CRATTT!!!

Kepala Saeful terlepas dengan hanya sekali tebas. Dicky sangat kaget dan tidak hanya gemetaran melihat temannya dipenggal di depan kedua matanya. Darah mengucur deras dari leher Saeful. Badan Saeful langsung ambrug ke tanah dan tak bergerak sedikitpun.

Dicky menoleh ke tubuh Ninja yang dibakarnya tadi dan ternyata hanya sebuah batang pohon yang didapatinya. ‘Jurus pengganti jasad’ kata Dicky dalam hati. Matanya tidak berkedip sama sekali. Dirinya masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Tubuhnya gemetaran, dan kemudian tersungkur ke tanah. Dicky menjadi teringat akan semua yang pernah dia lakukan di dunia ‘aneh’ itu. Membakar orang tanpa belas kasihan, tanpa memperdulikan perasaan orang terdekat dari korban-korbannya. Sesak di dalam dadanya terasa menyakitkan. Tangannya menggenggam erat kaos yang dikenakannya.

“Your turn.” kata Ninja tersebut singkat. Dicky menggunakan kedua tangannya untuk mundur dengan masih terduduk di tanah. Matanya menampakkan ketakutan yang teramat sangat.

‘Gue belum mau mati!’ seru Dicky dalam hati. Mulutnya tak bisa mengucap satu katapun. Keringat dingin mulai keluar di sekujur tubuhnya, mulai dari dahi, leher, tangan, dan kaki. Ninja itu melangkah mendekati Dicky, semakin dekat dan semakin dekat.

Diangkatnya kedua parangnya perlahan. “What would you want your last words to be?” tanya Ninja itu.

Dicky memejamkan kedua matanya rapat-rapat.

‘Gue udah tamat. Mati gue. Gue bakalan mati. Bedebah orang yang udah bawa gwe dan yang laennya ke sini. Anj**g! Kalo aja ini cuman mimpi. Gue pengen buruan bangung sebelum Ninja kacrut ini nebas kepala gwe.’

.

.

.

.

Bruag!!

“Busyet deh!” seru suara seorang anak laki-laki dari kejauhan. Anak laki-laki dengan rambut hitam dan dengan gaya yang sederhana dan sedikit model sasak itu memukul-mukul celanya guna membersihkannya dari debu dan tanah yang melekat. Dicky tidak bisa melihat jelas siapa anak laki-laki tersebut. Yang dilihatnya hanya jemper hitam agak kelabu dan celana panjang hitam yang dikenakan anak laki-laki tersebut. Ninja yang tadinya hendak menebas leher Dicky-pun menghentikan aksinya dan menoleh ke arah belakang. Ninja tersebut berdiri tegap dan merendahkan kedua parangnya sejajar dengan kedua kakinya. Dilihatnya seorang anak laki-laki yang nampak seumuran dengan Dicky. Ninja itu mendekati anak laki-laki tersebut.

“Huaa!!!” teriak anak laki-laki tadi saat melihat ada mayat di depannya. “Hmmpp.. gue jadi mual…hmmp.”

Ninja tadi langsung berlari ke arah anak laki-laki tersebut dan mengibaskan parangnya ke anak laki-laki tersebut. Anak laki-laki itu kaget bukan main saat melihat dirinya hendak di bunuh oleh Ninja yang tiba-tiba berlari ke arahnya. Dengan sigap anak itu melompat menjauh ke belakang. “Apa-apaan nich?” tanya anak laki-laki tadi.

“Hmm…. Itu kan..” gumam anak laki-laki tersebut saat melihat Dicky yang sedang terduduk dan gemetaran di tanah.

SRAT!! Parang Ninja tersebut hampir saja mengenai lengan anak laki-laki tersebut. Beruntung gerakan anak tersebut cepat sehingga hanya sedikit bagian jempernya yang sobek terkena ujung parang.

DAK!! Dipukul tengkuk Ninja tersebut dengan telapak tangannya. Anak laki-laki tersebut ternyata bisa sedikit ilmu bela diri sehingga disamping cepat gerakannya, serangannya juga tepat mengenai daerah yang diincar. Ninja tersebut tersungkur, namun tidak lama dia bangkit lagi dan bersiap menyerang anak laki-laki itu. Berkali-kali Ninja tersebut mencoba melukai anak laki-laki itu namun selalu gagal.

“Ha!” anak laki-laki itu melancarkan tendangan tepat di wajah Ninja tersebut.

“Ugh!” mulut Ninja tersebut mengeluarkan darah. Dan serangan kedua langsung melayang di dagunya. DUAK!!

Ninja tersebut jatuh dan tergeletak lemah. Namun rencana licik kembali hendak dilakukannya. Ninja tersebut mengacungkan dua jari (telunjuk dan jari tengah) di depan dadanya dan bersiap mengeluarkan jurus. Hanya saja anak laki-laki tadi tidak membiarkannya begitu saja. Anak laki-laki itu langsung memukul wajah Ninja tersebut bertubi-tubi, bahkan sampai menggunakan siku tangannya juga hingga Ninja tadi akhirnya tidak sadarkan diri. Anak laki-laki tadi memastikan apakah Ninja tersebut sudah benar-benar tidak berdaya atau hanya tipuan saja. Dirasa cukup anak laki-laki itu bangkit dan menyeret Ninja tadi ke depan Dicky (yang masih terduduk di tanah).

“Lo kenapa penakut amat Dick?” tanya anak laki-laki tersebut yang ternyata adalah Praba atau sering dipanggil Bre. “Hajar sepuas loe nich!” perintah Praba pada Dicky semabari melemparkan tubuh Ninja tadi ke depan Dicky.

Dicky langsung berdiri dan kembali dapat mengendalikan dirinya sehingga tidak gemetaran lagi. Dicky melihat ke arah mayat Saeful. Praba juga menancapkan pandangannya ke mayat Saeful yang dibunuh dengan sadis oleh Ninja tersebut.

Tidak berapa lama, tiba-tiba tubuh Saeful nampak menguap dan bersamaan dengan uap itu tubuh Saeful mulai menghilang. Dicky langsung berlari ke arah mayat Saeful yang sedang menguap tersebut, diikuti Praba juga yang menjadi tidak percaya dengan apa yang terjadi.

“PuL!!! Ipul..!! Ini kenapa lagi si?!!!” geram Dicky sembari berusaha memegang tangan Saeful namun tidak kuasa untuk melakukannya. Praba menundukkan kepalanya dalam, tak tega dirinya melihat tubuh Saeful yang mulai menghilang. Praba menepuk pundak Dicky dan menarik kaosnya, berusaha menjauhkan Dicky dari kejadian yang tidak menyenangkan itu.

“Bre! IpuL Bre…” seru Dicky sembari tangannya mencoba melepaskan tangan Praba yang sedang menarik bagian kaos di pundaknya.

“Udah biarin! Udah mati ya udah. Mending lo ceritain ke gue apa yang sebenarnya terjadi,” bentak Praba.

“…” Dicky menekuk lututnya dan berusaha berdiri perlahan.

DUAK!!

Dicky memukul Praba tepat di wajahnya dengan keras. Praba tersenyum, dia sadar bahwa Dicky sudah tidak dibawah ketakutannya lagi. Praba menunjukkan tinjunya dan disambut dengan tinju Dicky. “Kita cuma perlu keluar dari dunia aneh ini,” kata Dicky.

“Ini dunia apaan si? Virtual apa nyata si?” tanya Praba lagi. Mereka mengobrol sambil berjalan menuju hutan untuk bertemu dengan teman-teman Dicky yang lainnya. “Kita bicarakan nanti di hutan. Entod sama Djoni juga ada di dunia sialan ini juga.” jawab Dicky lagi.

Sesampainya di dalam hutan,

Dicky dan Praba duduk di sebuah batu besar dan mulai membicarakan kejadian-kejadian yang dialami Dicky selama berada di duni aneh tersebut.

“Gila! Ini dunia nyata brati? Kalo gitu, Saeful bener-bener mati donk..?” Praba tersentak kaget setelah mendengar cerita dari Dicky.

“Gak tau juga si. Tapi ya kek gitu, sakit ya emang berasa sakit. Tidur ya emang berasa tidur. Tapi kalo dari cara kita semua nyampe sini sama tadi waktu ngilangnya Ipul, itu gak bisa dinalar. Gak logis,” lanjut Dicky sembari mengelus-elus dagunya.

“Kalo emang gitu, mungkin aja Ipul gak mati beneran. Bisa aja dia cuman dipindahin ke tempat lain, atau kalo gak ya dia balik ke bumi.” kata Praba menanggapi.

“Kalo gitu…” seru Praba dan Dicky bersamaan.

“Lo mikir kek gue gak? Jyahaaa…” tanya Praba girang. “Kita mending mati aja biar bisa balik ke Bumi.” kata Dicky meneruskan.

Mereka berduapun tertawa terbahak bersama. “Tau gitu, mending mati aja gue dari awal” kata Dicky lagi dengan masih tertawa.

“Oy!” terdengar suara memanggil dari kejauhan. Ternyata itu adalah suara Dimas, dengan senyum lebar dia melambaikan tangannya. Di sampingnya juga nampak Djoni menyungginkan senyum. Mereka berdua berjalan ke arah Dicky dan Praba yang sedang asyik mengobrol.

“Pada ngetawain apa nich?” tanya Dimas pada Dicky. “Eh Bre. Lo di sini?” lanjutnya sembari menepuk pundak Praba dan tersenyum lebar.

“Ya di sini, loe emang liatnya dimana -__-?” jawab Praba.

“Haha,” Dimas terbahak. Namun langsung terdiam saat menyadari dirinya tidak melihat Saeful, “Eh? Si Ipul mana? Gak keliatan.” tanya Dimas.

Dicky dan Praba terdiam, menundukkan kepalanya sejenak. Dicky mendongakkan kepalanya dan berkata, “Aman kok. Malah udah balik ke bumi lagi.”

“Ah yang bener? La gimana caranya?” tanya Dimas penasaran, “Terus kenapa cuman dia sendiri. Wah… egois tuch anak. Kamfret!” lanjutnya menggerutu.

“Beneran itu?” Djoni tidak percaya. “Kalo iya, kenapa loe gak ikut dia balik ke bumi aja?” desak Djoni.

“….” Dicky terdiam kembali. Kemudian Praba melangkah maju dan memegang pundak Djoni dan Dimas, “Dia udah mati. Tapi yang kita berdua yakini, dia gak mati dalam arti sesungguhnya. Mungkin aja dia dibalikkin ke bumi lagi.” jelas Praba dengan wajah mencoba meyakinkan kedua temannya itu.

Djoni membuang pandangan dan mulai muncul bayangan-bayangan mengerikan di kepalanya. Orang-orang yang telah dibunuhnya, orang-orang yang terluka karnanya. Namun itu berbeda, orang yang dia bunuh dan lukai adalah pribumi di sana, dan jika mereka mati maka mereka memang benar-benar mati. Djoni masih belum yakin kalau Saeful memang baik-baik saja. Karena di dunia itupun Djoni dan yang lainnya hidup layaknya di dunia asal mereka, tidak ada yang jauh berbeda. Sakit, canda, kebahagiaan, keceriaan, semua terasa nyata.

“Gue gak percaya. Dimana jasadnya?” tanya Djoni sembari menampik telapak tangan Praba yang berada di pundaknya. Dengan tatapan tajam Djoni mengintimidasi Praba dan Dicky. “Bagaimana kalian bisa yakin kalau dia baik-baik saja?” lanjutnya.

“Udah Djon, sekalipun emang beneran udah mati. Kita juga gak bisa apa-apa kan?” tegur Dimas menenangkan Djoni.

“Tubuhnya menguap dan hilang. Itu yang bikin kita berdua yakin. Gak logis orang mati kek gitu kan?” jawab Dicky sembari mendekat kepada Djoni.

“Menguap?” Djoni terheran. “Itu kek waktu gue mulai masuk ke duni ini dulu.” lanjutnya. Djoni teringat pertama kali mereka berempat yaitu Dicky, Dimas, Saeful, dan dirinya mengalami hal aneh dan mulai menghilang hingga akhirnya mereka tersadar dan sudah berada di dunia aneh ini.

“Kalo emang bener kek gitu. Kita brati juga bisa balik ke bumi jika kita dibunuh?” tanya Dimas mengambil kesimpulan sekenanya.

“Yak! Itu juga yang gue sama Praba pikir. Mungkin kita semua bisa balik lagi ke Bumi dengan cara seperti itu.” jawab Dicky menanggapi.

“Pertama-tama kita cari dulu kakak gue. Setelah itu bagaimana kita lakukan percobaan bunuh diri.” usul Djoni.

“Gila!” seru Dimas terkejut mendengar ide yang diusulkan Djoni. “Loe ngomong seenak udel loe!”

“Tapi kita musti coba,” kata Praba. “Loe emang betah tinggal di sini?”

“Ya enggak. Tapi, apa gak ada cara lain yang lebih keren dan gak konyol kek gitu?” tukas Dimas.

“Kita cari Raja DemVo. Kita tantang duel. Dengan gitu setidaknya kita gugur dengan cara terhrormat di dunia ini,” kata Dicky mencoba menanggapi.

“Nah! Itu lebih baik.” seru Dimas menyetujui.

“Oke. Misi kita pertama cari kakak gue. Setelah udah kumpul semua, kita cari Bos tertinggi DemVo dan kita tantang dia.” kata Djoni menyimpulkan.

“Oke,” jawab ketiga temannya serempak.

———–To Be Continued———–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s