Novel Q-Ta Knight’s Story Chapter 13

“Q-Ta Knights dan Organisasi Misterius”

Nampak dari kejauhan beberapa orang sedang menandu seorang laki-laki yang tengah terluka. Keadaan laki-laki tersebut sangat lemah, itu jelas terlihat dari raut wajahnya yang begitu pucat. Ada 6 orang, 4 orang memikul tandu di setiap sisi sedangkan yang dua orang bertugas mengawasi keadaan dan melindungi keempat orang tadi beserta laki-laki di atas tandu dari bahaya yang bisa saja muncul sewaktu-waktu.

“Ugh…” laki-laki di atas tandu mulai sadarkan diri. *sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing*

“Dia sudah sadar,” kata salah seorang yang mengankat tandu di belakang.

“Wahh benar juga,” timpal laki-laki di sebelahnya.

Salah satu dari kedua penjagapun melepaskan pengawasannya pada keadaan sekitar dan mendekat ke tandu. Dilihatnya laki-laki yang mereka bawa sudah sadarkan diri. Sang Penjaga itu langsung menyuruh berhenti semua teman-temannya.

Diturunkan pelan-pelan tandu oleh keempat orang yang mengangkatnya agar tidak terjadi guncangan yang membahayakan bagi laki-laki yang di bawa mereka. Dengan perlahan Penjaga 1 yang mengenakan pakaian hitam-hitam begitu juga dengan kelima temannya. Mereka nampak seperti anggota dari suatu organisasi tertentu karena mengenakan jubah yang seragam.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Penjaga 1 tersebut pada laki-laki di atas tandu.

“Ugh…” Laki-laki itu hanya merintih kesakitan, nampaknya dia masih belum mempunyai cukup tenaga untuk bergerak dan berbicara.

“Sudahlah. Sebaiknya lekas kita bawa ke tenda tempat kita. Kita rawat dia dulu sebelum ‘melakukannya’. Ayo angkat lagi!” perintah Penjaga 1 pada keempat pembawa tandu. Penjaga 2 hanya memperhatikan laki-laki di atas tandu dengan tanpa berekspresi. Mereka kembali bergerak melanjutkan perjalanan mereka. Kedua Penjaga kembali memfokuskan pandangan mereka pada daerah sekitar.

———–Q-Ta Knight———–

“Gimana kalo kita berpencar aja? Kalo bareng-bareng kek gini bakal lebih lama nemunya,” usul Dimas di tengah-tengah perjalanan bersama keempat temannya.

Saeful menoleh dan melihat Djoni. “Gimana kk? Menurut lo?” tanya Saeful pada Djoni dengan wajah lesu.

“Ya udah. Emang kalo kek gitu bisa lebih mempercepat pencarian. Cuman yang jadi pertanyaan. Kalo udah ada yang nemu, gimana ngasih taunya? Gak ada alat komunikasi kek gini kan susah,” jawab Djoni.

Dicky memegangi dagunya dan berfikir.

“Di tempat kek gini, emang susah sich. Gini aja. Lo bertiga seringnya kalo ngumpul dimana? Kita ngumpulnya di sana aja kalo udah ada yang nemu. Pencarian cuman ampe waktu kira-kira hampir malem, sorean gitu lah. Gimana?” jelas Dicky sembari meminta pendapat ketiga temannya itu.

“Kalo di tempatnya Roguruta aja gimana ntar ngumpulnya?” tanya Saeful.

“Apa gak ngerepotin? Udah sering kita ngerepotin dia sama Rinata beserta keluarganya,” jawab Djoni dengan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Istana Raja Zigrya masih cukup jauh, balik ke tempat Roguruta juga kan udah nanggung. Kita udah sejauh ini,” kata Dimas menambahi.

“Ya udah kalo gitu di tempat ini aja.. Ntar kita ngumpul lagi di sini?” usul Dicky. Mereka berempatpun berpencar untuk mencari Miskam. Dicky bersama Saeful, sedangkan Dimas bersama Djoni.

“Mau nyari kemana kk?” tanya Saeful kepada Dicky di tengah lari mereka berdua.

“Gak tau,” jawab Dicky singkat. Mereka berdua langsung berhenti.

.

.

“Haahhhh..” Dicky dan Saeful menepuk dahi mereka sembari menghela nafas panjang.

“Bego atau gimana ya? Gak punya petunjuk apa-apa, mau nyari kemana coba?” gerutu Dicky.

“Yang bego siapa brati?” tanya Saeful sedikit mengejek.

“Loe!!” jawab Dicky sekenanya.

———–Q-Ta Knight———–

Di lain tempat.

“Kita bunuh saja dia,” kata seorang berjenggot lebat dan berwajah sangar kepada 5 orang lain yang nampak sedang melakukan rapat di tengah ruangan yang dikelilingi dinding-dinding tebal, di bawah penerang lampu yang sudah mulai redup.

“Tapi bagaimanapun juga dia itu perempuan,” timpal seorang lain yang mengenakan topi cowboy dengan syall berwarna ungu yang melingkar di lehernya.

Keempat laki-laki lain yang mengenakan jaket hitam yang sama menatap mereka berdua secara bergantian. Satu orang merasa akan ada masalah jika mereka berdua beradu argumen nantinya.

“Tetap saja dia itu salah satu dari iblis-iblis itu!” seru Pria berjenggot lebat kepada laki-laki memakai syall itu.

“Aku! Redwin tidak akan membiarkanmu melakukannya. Meski kau bersikeras. Kita memang memerangi mereka namun kita juga harus seleksi setiap musuh kita!” seru laki-laki ber-syall di lehernya yang diketahui namanya Redwin Volgof itu.

BRAGK!
*sfx : meja dipukul dengan keras

“Nampaknya kau masih belum mengerti tujuan dari organisasi kita ini Redwin! Aku Koman pemimpin di sini. Kau harus ikut aturanku!” bentak laki-laki berjenggot lebat (Koman) kepada Redwin.

“Kau tidak pantas jadi pemimpin dengan pemikiran kekanak-kanakanmu itu!” tentang Redwin.

Salah satu dari keempat laki-laki lain akhirnya berdiri dan angkat bicara, “Tidak bisakah kalian tenang!?”

Koman melihat tajam ke mata laki-laki yang mencoba menengahinya dengan Redwin. Laki-laki dengan rambut pirang dan luka gores di bagian dahinya itu tidak memperdulikan tatapan Koman. Dia mencoba membuang tatapannya ke arah tembok di belakang Redwin.

“Cih!” Redwin kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut dengan diikuti salah satu dari keempat laki-laki lain yang merupakan tangan kanan Redwin.

“Kau lihat? Dia sudah tua tapi masih tidak memiliki Kebijaksanaan sama sekali,” gerutu Redwin kepada tangan kanannya yaitu Sofkin.

Redwin & Sofkin

Koman berdiri dengan masih menatap tajam ke arah laki-laki berambut pirang tadi. “Andy, kau memang lebih muda dariku. Tapi aku menghormatimu, bukan karena kau anak dari temanku yang dulu pernah menyelamatkanku sehingga aku berhutang nyawa padanya. Namun karena kau juga sudah ku anggap sebagai anakku sendiri.” kata Koman dengan nada lembut dan mulai menundukkan kepalanya. Menutup kedua kelopak matanya rapat dan berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangan tersebut.

“Ku serahkan padamu. Aku tidak pandai dalam hal seperti ini. Aku terlalu keras pada kalian begitu juga dengan Redwin.” kata Koman lagi sembari menatap Andy. “Rundingkan apa yang harus diperbuat pada gadis itu!” lanjut Koman memberi perintah kepada Andy dan kedua laki-laki lainnya yang masih duduk dengan wajah tegang.

Koman keluar ruangan dan melihat Redwin pergi bersama tangan kanannya yaitu Sofkin.

‘Apa yang dia inginkan? Sok baik?’ pikir Koman dalam hati. Komanpun berlalu ke arah lain dari yang diambil Redwin dan Sofkin.

Sementara itu di luar gedung tempat Koman dan yang lainnya berdiskusi tadi,

“Buka pintunya!” teriak salah seorang dengan membawa pedang, di belakangnya ada 4 orang yang sedang memikul tandu dan satu lainnya berada di belakang mengawasi keadaan sekitar.

“Tunggu sebentar,” jawab seorang penjaga di dekat pintu masuk. Penjaga tersebut mengambil kunci untuk kemudian membuka pintu utaman dari gedung dengan 3 lantai tersebut. Gedung yang nampak tua namun terawat dengan sebuah taman kecil untuk menambah keasrian di halaman gedung.

“Siapa yang kalian bawa ini?” tanya penjaga saat Pengawal dan rombongannya tadi mulai memasuki pintu masuk.

“Entahlah. Tapi dari pakaiannya mungkin dia adalah Wizard,” jawab Pengawal yang berada di belakang setelah Pengawal yang di depan jauh masuk ke dalam gedung.

“Semudah itukah kalian mendapatkannya? Bahkan tanpa diikat seperti itu. Apa dia lemah?” tanya sang penjaga pintu lagi karena penasaran.

“Dia kami temukan terkapar di jalan utama di dalam hutan dan tak sadarkan diri. Nampaknya dia banyak kehabisan tenaga. Karena itulah kami langsung membawanya. Syukur kalo dia bukan wizard,” jelas Pengawal tadi, “Tapi jika dia wizard, entahlah sebesar apa kekuatannya. Yang jelas kita harus waspada.” lanjutnya.

———–Q-Ta Knight———–

Langit mulai petang, Saeful dan Dicky yang mencari di beberapa desa dan kota yang tidak jauh dari hutan sudah nampak kelelahan. Terutama Saeful, dia yang belum makan siang terus-terusan mengeluh bahwa perutnya lapar.

“Manja amat. Tahan bentar lagi. Ntar kalo udah ngumpul lagi kita makan bareng. Emang lo gak bawa bekal apa?” tanya Dicky pada Saeful yang berjalan sambil memegangi lengan Dicky karena lemas.

“Kayaknya kalo bawa udah jatoh tadi di hutan pas ada tuch Monster Pohon,” jawab Saeful dengan mata sayu.

“Hadeuuh… Kek orang gak pernah puasa aja. Tahan!” kata Dicky sewot.

Brug!

Saeful jatuh dan mukanya menyentuh tanah.

“Nungging malah. Oy!” seru Dicky yang kesal melihat Saeful.

“Gak kuat Dick, duduk dulu lah…” rengek Saeful sembari membalikkan badannya di tanah sehingga wajahnya menghadap ke langit.

“Nanggung. Bentar lagi nyampe hutan, kita musti ngumpul dulu.” kata Dicky menimpali.

Zring!!!

Tiba-tiba terdengar suarah logam yang digesekkan ke logam lainnya.

Dicky tetap tenang. Hanya saja matanya yang tajam melirik ke kanan dan kiri mencari sumber suara tadi.

“Ful” panggil Dicky dengan lirih.

Saeful sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat Dicky. Sambil melongo Saeful bertanya, “Apaan?”

“Siaga!” perintah Dicky sambil mulai memasang kuda-kuda, kedua lengannya mulai berasap.

“Lo kenapa Dick?” tanya Saeful yang menjadi bingung, dia nampak tidak paham dengan yang dikatakan Dicky tadi.

.

.

Dan..

Tiba-tiba dari atas nampak orang dengan dua parang di tangannya melompat hendak menebas Saeful yang dalam keadaan tiduran di tanah.

“Awas Cok!” seru Dicky pada Saeful. Dicky langsung melompat dan menendang dada orang misterius tadi.

Bruag!!!

Orang misterius itu terdorong namun dia langsung sigap dan mendarat dengan mulus. Dicky menatap tajam orang tersebut. Api di lengannya mulai berkobar.

“Mau apa lo?” tanya Dicky pada orang misterius itu.

“….” orang misterius yang mengenakan pakaian seperti ninja dengan hanya nampak daerah matanya itu tidak menjawab pertanyaan Dicky.

Saeful sangat kaget saat melihat Dicky menendang orang misterius tadi. “Set dah! Dari mana tuch orang nongol!?”

“Lo minggir aja Pul. Nyusahin doank lo si! Kenapa pake acara keilangan skill!” perintah Dicky pada Saeful.

Saeful menutup mulutnya yang tadinya menganga karena kaget. “….” tanpa berkata apa-apa Saeful langsung pergi menjauh.

“Lo diem! Gue bakar!” gertak Dicky pada orang misterius tadi.

Namun gertakan tersebut tidak membuat orang misterius itu gentar. Dia melebarkan kakinya dan bersiap untuk menyerang.

ZZZZZZZZTTTTT!!!

Dari parang orang misterius itu muncul aliran listrik. Dicky sedikit terkejut. Tapi dia berhasil menguasai dirinya dan kembali bersikap tenang. Dengan menarik senyum ke samping kiri Dicky mengupgrade skill-nya sehingga api di kedua lengannya menjadi biru.

Dicky dan orang misterius itupun melepas kuda-kuda mereka dan mulai saling serang.

“Mampus aja Lo!!!!”

————————To Be Continued————————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s