Novel Q-Ta Knight’s Story Chapter 12

“10th Leader of DemVo”

Dicky mempercepat langkahnya untuk dapat segera sampai ke Kota Suku Tinggi. Sedangkan tepat diwaktu yang sama, Miskam, Djoni, Dimas, dan Saeful telah beranjak dari kediaman Rinata untuk menuju ke Istana. Miskam hendak dibawa untuk menemui Petugas Kesehatan Istana untuk selanjutnya diperiksa keadaan fisiknya. Miskam nampak begitu lemah dan kacau setelah kemarin hampir seluruh tenaganya terkuras habis untuk menumpas 2 The Guardian Of DemVo. Untuk saat ini mungkin mana yang dimiliki Miskam sudah tidak tersisa dan perlu beberapa waktu untuk memulihkannya lagi. Akan lebih beruntung jika mereka mempunyai wizard healer di sisi mereka. Keempat anak tersebut sudah melewati perbatasan kota dan tidak jauh lagi mereka akan melewati sebuah hutan yang nampak lebat. Miskam yang dipapah oleh Dimas bertanya, “Apa tidak ada jalan lain?

“Hmmzzz… Kayaknya gak ada pak. Ini jalan utamanya yang terdekat ke arah Istana. Jika lewat jalan raya bisa saja, tapi lumayan jauh bisa-bisa kita sampai di Istana ntar malem,” jawab Dimas. Mereka berempat sudah mulai masuk kedalam hutan lebat itu. Disamping kanan dan kiri hanya ada semak-semak yang lebar dan pohon-pohon besar yang menjulang namun juga meneduhkan. Nampak terasa sangat lembab di dalam hutan karena memang hampir sebagian besar pohon di hutan tersebut memiliki daun yang rimbun dan sinar matahari tidak leluasa menerobos masuk. Setelah berjalan dan masuk ke dalam hutan cukup jauh mereka berempat memilih beristirahat sejenak karena Miskam juga nampak sudah semakin lemah. “Mas, lo gak papa?” tanya Djoni pada Miskam. “Gak kok, cuman capek aja,” jawab Miskam sembari didudukkan oleh Dimas. Nampak keringat dingin menetes di dahinya. Djoni menjadi khawatir dan kemudian berdiri lalu mendekat ke arah Saeful, “Ful, lo coba cari tahu ada jalan lain buat menyingkat kita keluar dari hutan ini gak selain jalan utama ini,” perintah Djoni. Saeful melirik ke arah Miskam sebentar lalu menganggukkan kepalanya dan pergi. Dimas menoleh ke arah Djoni dan melihat Saeful pergi ke dalam hutan. “Lo masih kuat kan kk?” tanya Dimas pada Miskam yang nampak lemas. Miskam mengangkat lengan kanannya dan memegang bahu Dimas lalu berkata, “Santai saja”.

Tidak lama setelah kepergian Saeful untuk mencari jalur cepat keluar dari hutan tiba-tiba terdengar suara semak dan ranting-ranting pohon yang patah. Dimas memperhatikan darimana asal suara tersebut. “Arrgghhh!!” terdengar suara teriakan dari kejauhan. “Ipul?” Dimas terkejut. Suara teriakan tersebut kemudian disusul bunyi benda jatuh. BRUGG!! Djoni langsung bergegas berlari menuju arah teriakan tadi. Dimas segera menyusul dan meninggalkan Miskam sendirian yang sedang duduk di bawah pohon besar. “Gue gak lama kk,” seru Dimas sembari menoleh ke arah Miskam dan melambaikan tangannya.

Alangkah terkejutnya Djoni saat melihat Saeful yang sudah tergeletak di tanah dengan penuh luka. Saeful mencoba untuk merangkak dan menjauh dari sesuatu yang nampak besar. “Benda apaan tuch?” Djoni tersentak kaget melihat sebuah pohon besar yang nampak hidup dan mengerikan. Saat pohon besar itu mengayunkan dahannya untuk menyambar Saeful, Djoni dengan sigap juga menembakkan listrik berdaya besar ke arah dahan pohon hidup tersebut, dan BRUAGGKKK!!! hancurlah dahan pohon hidup tersebut. Pohon hidup tersebut sedikit terpental, dua lubang yang nampak seperti mata di batang pohon hidup tersebut langsung mengarah ke Djoni yang baru saja menyerangnya. Dalam kesempatan itu Saeful langsung bangkit dan berlari menjauh untuk bersembunyi di balik pohon besar lainnya. Djoni nampak sedikit gentar dan melangkah mundur, di saat yang tepat datanglah Dimas yang terkejut juga melihat pohon besar yang hidup tersebut. Dahan sebelah kanan pohon hidup tersebut telah hancur karena listrik Djoni dan kini tingga dahan sebelah kirinya. Pohon hidup tersebut mengangkat dahan kirinya dan bersiap mengayunkannya untuk menghantam Djoni dan Dimas yang berada di bawahnya.

SRAAKKK!!!!

Dahan dari pohon hidup tersebut menghantam tanah dan ranting-ranting serta daun-daunnya berhamburan. Beruntung Djoni dan Dimas dapat dengan cepat menghindari serangan dari Pohon Hidup tersebut. Dimas mencoba menyemburkan air ke Pohon Hidup tersebut dan disusul dengan tembakan listrik dari tangan Djoni. Alhasil Pohon Hidup tersebut hancur karena serangan dari Djoni dan Dimas yang terus menerus, dan akhirnya Pohon Hidup itupun tumbang. Saeful yang menyaksikan perhelatan dari Djoni dan Dimas dari balik pohon tersenyum dan merasa lega karena Pohon Hidup tersebut telah dikalahkan. Namun Saeful juga merasa sedih dikarenakan dirinya merasa tidak punya daya untuk membantu teman-temannya bahkan membela dirinya sendiripun tidak sanggup. Saeful kini hanya menjadi anak manusia biasa tanpa kemampuan khusus seperti teman-temannya yang lain. “Udah aman Pul!” seru Dimas memanggil Saeful agar segera keluar dari tempat persembunyiannya.

Saeful melongok dan tersenyum, mencoba untuk menutupi perasaan bersalah dan ketidak berdayaannya dia di depan teman-temannya. Saeful langsung keluar dan berlari ke arah kedua temannya itu lalu merangkul Djoni sembari berkata, “Mantep bener dah…!!!”

“Biasa aja lah,” kata Djoni menanggapi, “Eh kok bisa ada kek gituan di sini ya? Kalo gitu ada kemungkinan yang lain juga ada donk,” lanjut Djoni sembari menoleh dan memperhatikan Pohon Hidup yang telah tumbang tadi.

“Gak tau juga. Seinget gue padahal tadi itu pohon biasa aja. Normal normal aja, tapi setelah kek ada asap di sekitarnya langsung idup dech tu Pohon,” kata Saeful menjelaskan yang disambut rasa penasaran Dimas. “Keknya ada wizard di sekitar sini nich,” kata Dimas menanggapi.

“Mungkin. Tapi gue si gak liat siapa-siapa selain kita,” jawab Saeful lagi

“Ya udah, keknya gak aman juga berlama-lama di hutan ini. Mending kita buruan ke Istana buat nge-heal kakak gue,” usul Djoni sembari sedikit mempercepat langkahnya yang kemudian diikuti Dimas dan Saeful.

————————-Q-Ta Knight————————-

Di tempat lain,

Dicky sudah dekat dengan kota Suku Tinggi. Nampak ramai memang kota tersebut dan banyak pedagang di sana-sini. Menurut petunjuk Miskam sedang berada di kota tersebut beberapa hari lalu. Dicky sedikit pesimis kalau-kalau tidak bakal bertemu dengannya karena sudah pasti Miskam tidak akan menetap di kota tersebut. Namun Dicky melanjutkan langkahnya, apapun yang dia dapatkan tidak akan dia sia-siakan begitu pikirnya. Dicky melihat ke kanan dan ke kiri, serasa seperti di bumi. Banyak orang berlalu lalang dan melakukan jual beli. Dicky kemudian melihat sebuah rumah makan, tidak berfikir lama dia langsung masuk ke rumah makan tersebut. (apa mungkin mau daftar kerja di sana lagi yaa?? wkwkwk)

“Permisi….” kata Dicky dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya. Orang-orang yang menyantap makanan mereka di dalam rumah makan tersebut menoleh ke arah Dicky sejenak lalu memalingkan wajah mereka lagi dan melanjutkan menyantap makanannya. “Cihh kampret! Gue dikacangin,” kata Dicky dalam hati. Dicky kemudian masuk dan menemui salah seorang pelayan di sana. “Permisi mba…” sapa Dicky pada seorang pelayan perempuan di balik meja untuk memesan makanan. Namun pelayan tersebut nampak lebih asyik melanjutkan kesibukannya mengelap beberapa piring dan gelas. Dicky menundukkan kepalanya dan menutup matanya rapat-rapat, “Njjjjjjjiiiiiinnngg… Salah gue apa sie? Dikacangin kek gini!” gerutunya dalam hati. Dicky kemudian mengangkat kepalanya lagi dan memukul meja di depannya. DAKK!!!

Untuk kedua kalinya orang-orang di dalam rumah makan tersebut menoleh ke arah Dicky dan semua terdiam. Dicky mencoba untuk tidak melihat orang-orang yang memperhatikannya itu dan mulai berbicara pada pelayan perempuan di depannya yang hanya terhalang meja untuk memesan makanan, “Pernah lihat orang pake jubah merah dengan wajah lumayan cakep dibanding gue?”. Pelayan tersebut menatap dengan tanpa ekspresi dan menjawab dengan singkat, “Tidak”.

Dicky menghela nafas panjang dan kemudian tersenyum. “Terima kasih…” katanya sambil berlalu dan keluar dari rumah makan tersebut. “Salah gue apa coba? Udah ramah kek gitu malah dikacangin,” Dicky menggerutu lagi di dalam hati, dan kemudian melanjutkan langkahnya untuk bertanya ke tempat lain lagi.

————————-Q-Ta Knight————————-

Djoni, Dimas, dan Saeful terkejut saat kembali ke tempat mereka beristirahat. Miskam yang tadinya berada di sana kini sudah tidak ada. “Lho? Miskam kemana?” seru Dimas sembari melihat ke sekililing mencoba menemukan Miskam. Saeful berlari ke arah tempat Miskam tadi terduduk, didapatkannya sebuat robekan kain dari baju yang dikenakan Miskam. “Bisa jadi Miskam diculik,” kata Saeful kepada Dimas dan Djoni. Saeful mengulurkan tangannya dan memperlihatkan robekan kain tersebut kepada Djoni. Diperhatikannya robekan kain tersebut oleh Djoni. “Bener. Ini punya kakak gue,” kata Djoni yang kemudian menggenggam robekan kain tersebut di telapak tangannya dengan geram. Matanya menatap ke arah dalam hutam dengan kosong. Wajahnya tidak mengekspresikan apapun. Dimas dan Saeful nampak lesu mendapati Miskam telah hilang. “Bisa jadi pohon idup tadi cuman umpan buat njebak kita supaya…” kata Saeful namun belum sampai dia menyelesaikan kalimatnya Djoni berlari ke dalam semak-semak yang ada di sisi kanan jalan setapak dimana mereka berada sekarang. Saeful terperanjat dan mengejar Djoni untuk menyusulnya, “Kamfret! Seenggaknya dengerin gue ngomong sampe abis dulu..” Dimaspun ikut berlari di belakang Saeful.

“Loe mau kemana kk?” seru Saeful kepada Djoni yang berlari jauh di depannya. Djoni tetap diam dan terus berlari. Hingga tiba-tiba ada sebuah pohon besar yang tumbang di hadapannya dan Djonipun langsung menghentikan langkahnya secara mendadak dan terguling dan menabrak pohon yang tumbang tersebut. “Djon!!!” seru Dimas dan Saeful. Dengan sigap mereka berdua langsung memegang tubuh Djoni. “Arrgghh!” erang Saeful karena luka di sekujur tubuhnya kembali terasa sakit dan perih. “Lo juga ngapain ikut lari-larian si? Udah tau masih bonyok kek gitu,” bentak Dimas kepada Saeful. Djoni yang dipegangi oleh kedua temannya kemudian memegang pundak kedua temannya dan mencoba berusaha berdiri. Djoni melihat pohon besar yang tumbang tepat di hadapannya dan kemudian menarik pandangannya ke arah asal jatuhnya pohon tersebut.

Plantz Fork

“Manusia…” kata Seseorang laki-laki yang memakai jubah pakaian dengan warna hijau dan hitam. Begitu juga di sekitar daerah matanya memiliki warna yang sama dan serasi dengan pakaian yang dikenakannya, pelipis mata berwarna hitam dan bola mata berwarna hijau daun. Rambutnya panjang sebahu dan lurus. Kedua tangannya menggenggam masing-masing sebuah kampak. Digendongnya sebuah busur beserta anak panahnya yang di lingkarkan di pundak dengan tali. Lelaki tersebut berdiri di sebuah batang pohon yang cukup besar dan menatap rendah kepada Djoni dan kedua temannya.

“Siapa kau?” tanya Djoni kepada lelaki itu. Namun, bukannya jawaban dari pertanyaannya yang dia dapatkan justru serangan berupa kibasan dari kapak yang digenggam laki-laki tersebut yang mengeluarkan sinar berwarna hijau daun dan menghancurkan benda yang dikenainya. Beruntung Djoni dan teman-temannya langsung sigap untuk menghindari serang tersebut. Saeful yang dipapah oleh Dimas saat menghindar terkejut bukan main dan tidak menyangka akan ada seranga dadakan seperti itu. Mata Saeful terbelalak melihat pohon yang tumbang tadi dan terkena sinar hijau dari kapak laki-laki tersebut sehingga menjadikannya terbelah. Saat mereka dikejutkan dengan serangan tersebut. Laki-laki itu ternyata mempunyai gerakan yang cepat dan tidak disangka dia kini sudah berada di belakang Dimas, melingkarkan lengannya di leher Dimas dan membungkam mulut Saeful dengan gagang kapaknya. Djoni terbelalak dan matanya tidak lepas dari pandangan mata laki-laki misterius itu yang menatap Djoni dengan tajam dan senyum miringnya.

“Kau ingin tahu siapa aku?” tanya Laki-laki misterius tersebut dengan wajah menyeringai, “Aku salah satu dari kesepuluh Leader of DemVo. Planzt Fork,” lanjutnya.

————————-Q-Ta Knight————————-

Dimas meronta dan memukul perut laki-laki bernama Planzt Fork itu dengan sikunya. Kedua tangan laki-laki tersebutpun melepas bungkaman pada mulut Dimas dan memegangi perutnya. Mata lelaki tersebut berubah menyeringai dan bagian putih di matanya berubah menjadi hitam. Dimas yang kesal tanpa memperdulikan seseram apa wajah Planzt Fork kini langsung meludahi wajah Planzt. Kontan Planzt menutup matanya rapat dan memalingkan muka, pada saat itu Saeful mengambil sebuah batang pohon di dekatnya dan menghantamkannya ke kepala Planzt dengan keras.

ARRGHH!!! Erang Planzt Fork. “SIALAN!!!”

Djoni kemudian melakukan spelling dan menyambarkan petirnya ke arah Plaznt Fork. Disusul semburan air dari Dimas sehingga membuat Planzt semakin kesakitan dan tubuhnya merasa sangat panas. Saeful dan Dimas menghampiri Djoni dan semua melihat ke arah Planzt. Memasang kuda-kuda untuk mengantisipasi serangan yang mungkin akan kembali dilancarkan oleh Planzt.

HHHUUWWWAAA!!!! Layaknya monster Planzt mengerang dengan keras. Merasa terhina Planzt kini menjadi semakin menyeramkan. Ditancapkannya kedua kapak yang di genggam lalu mengambil busur beserta anak panahnya. Planzt mulai membidik lurus ke arah Djoni. Dimas melebarkan kuda-kudanya dan kedua tangannya membuka layaknya siap menghalau serangan.

SYUUTT! Anak panah dilepaskan dari busurnya namun ke arah yang tidak semestinya. Anak panah itu justru dilepaskan ke sebuah pohon besar di samping kanan Dimas, Djoni, dan Saeful. Mereka bertiga menoleh searah meluncurnya anak panah tadi. Merasa lucu dan aneh mereka bertiga pun terheran dan mulai tertawa.

“Huahahahaha… Kamfret! Gue kira mau manah jidatnya Djoni malah nyeleweng kek gitu. Emang ludah gue bisa bikin rabun ya? Akakakakakak,” seru Dimas yang tak bisa menahan tawanya.

Saeful memegang pundak Djoni dan wajahnya nampak aneh karena menahan tawa yang teramat sangat, “Ada lagi orang kek gini? Gue kira cuman Dimas yang aneh,” kata Saeful sambil terus mencoba menahan tawanya. Namun pada akhirnya pecah juga. “Hahahahahaha”.

“Kok bisa gitu lho? Serabun itukah?” timpal Djoni yang juga bingung melihat kejadian yang baru saja terjadi di depan dia dan teman-temannya.

“Eh sompret! Gue gak seaneh dia juga kali!” seru Dimas pada Saeful.

Namun,

Gggrrrgrggrrrttt *sfx : seperti suara gempa

“Eh?” tawa Saeful, Dimas, dan Djoni langsung terhenti. Tanah yang mereka pijak terasa bergetar. Dan tiba-tiba muncullah akar besar dari dalam tanah. BRUAAALLL

Dimas, Djoni, dan Saeful menghindar. Mereka nampak terkejut.

“GRROOAAA” terdengar suara seperti suara raksasa. Saeful menengok ke arah kanan dan dilihatnya sebuah pohon besar dengan akar-akarnya yang besar dan panjang pula bergerak mendekati dia dan teman-temannya.

“Cihh!!! Monster pohon lagi!” seru Saeful. Dimas dan Djoni terkejut dan menoleh. Mata mereka terkunci pada satu makhluk besar yang tidak lain adalah sebuah pohon dengan akar tunggangnya yang tadi menyembul dari dalam tanah yang kini berjalan ke arah mereka.

“Bunuh Mereka!!!” perintah Planzt Fork pada Pohon Hidup itu. Saeful, Dimas, dan Djoni kini mengerti siapa dalang yang merubah pohon-pohon besar di hutan menjadi seperti monster penghancur. Skill dari Planzt Fork bisa menghidupkan Pohon dan bisa mengendalikan mereka juga.

“SIAL!!!” geram Dimas. Saeful berlari mencari tempat perlindungan, sedangkan Dimas dan Djoni berdiri tegap dan siap melawan Pohon Hidup tersebut. Di kedua lengan Djoni sudah nampak aliran listrik yang siap menyambar. Dan untuk pertama kalinya di kedua lengan Dimas ada gumpalan air yang menempel seh8ingga seperti sebuah sarung tangan dari air.

“Upgrade gue kayaknya nich,” kata Dimas dengan wajah sumringah namun matanya tetap menatap tajam ke Pohon Hidup di depannya.

“Baguslah. Kalo kek gitu lu lebih keliatan kek orang,” kata Djoni menanggapi.

“Maksudnya?!!!” jawab Dimas sedikit kesal.

Mereka berdua langsung berlari dan melompat ke kedua sisi Pohon Hidup tersebut. Dimas menembak-nembakkan air yang kemudian berubah menjadi bongkahan es tajam seperti mata tombak ke batang akar Pohon Hidup tersebut untuk mengurangi pergerakan. Sedangkan Djoni menghancurkan setiap ranting dan bagian tubuh Pohon Hidup yang lain dengan petih yang disambarkannya.

Saeful terkagum dengan kedua temannya. Mereka nampak keren.

‘Sugoi, kalo aja gue punya Skill lagi. Gue bisa bantu mereka,’ batin Saeful.

Saat melamun tersebut tiba-tiba Planzt mencekiknya dari belakang.
“Arrghh!!!” erang Saeful. Kedua tangannya mencoba melepaskan tangan Planzt yang melingkar di lehernya.

“Kau teman yang tidak berguna rupanya. Hanya merepotkan yang lain,” kata Planzt mengejek Saeful.”

Saeful tidak bisa menjawab apa-apa. Karena dia pun menyadari bahwa perkataan Planzt itu memang benar adanya.

BRUAAGKK!!! Tubuh Saeful didorong hingga menghantam pohon di depannya.

“Agh!”

Dzig!! Duakk! Brug!

Saeful dihajar terus menerus oleh Planzt.Saeful mencoba merangkak untuk lari namun kapak yang dilempar Planzt menghentikan niatnya. Saeful ketakutan. Jika saja dia tidak langsung berhenti mungkin kapak itu sudah membelah kepalanya.

Dimas menoleh dan terkejut melihat posisi Saeful yang sedang dalam bahaya. Namun dia juga tidak bisa meninggalkan Djoni melawan Pohon Hidup itu sendirian.

“HHEEEAAA!!!!” Dimas berteriak sembari menelungkupkan kedua telapak tangannya. Air yang berada di lengannya merayap ke telapak tangannya dan mengarah lurus dengan jari-jari Dimas. Hingga kemudian air di tangan Dimas menjadi es yang keras dan nampak seperti sebuah pedang yang tajam.Dimas membuka kedua tangannya lagi, dan pedang tersebut pun membelah jadi dua.

“Keren juga senjata gue sekarang,” gumam Dimas.

Dimas kemudian berlari mengibaskan pedang esnya ke seluruh bagian tubuh Pohon Hidup tersebut.

BRUAGK!!!

Pohon Hidup tersebut akhirnya tumbang dan terbelah menjadi beberapa bagian. Pedang es milik Dimas layaknya sebuah katana yang sangat tajam. Djoni tersenyum dan sangat kagum dengan kemampuan Dimas saat ini.

Planzt terkejut, Pohon Hidupnya tumbang begitu mudahnya. Wajahnya kembali menunjukkan betapa geramnya dia kepada Saeful dan teman-temannya.

Planzt mengangkat kapaknya tinggi-tinggi. Saeful yang masih gemetaran mulai merangkak lagi menghindar dari Planzt. Dimas dan Djoni memasang kuda-kuda lagi dan bersiap menyerang. Planzt bersiap untuk melepar kapaknya ke arah Dimas.

ZUUUUUOOORRR!!! *Sfx : nyala api yang membara

“AARRGGHH!!!” erang Planzt. Tubuhnya terbakar. Kapak yang tadinya hendak dilemparkan kemudian terjatuh bersamaan dengan tubuhnya yang melemah dan tersungkur ke tanah. Dimas, Saeful, dan Djoni kaget. Mereka bingung dengan apa yang terjadi (lagi).

Suasana kemudian menjadi hening. Saeful berlari ke arah Dimas dan Djoni. Mereka sengaja tidak bersuara untuk memastikan makhluk apa lagi yang akan muncul selanjutnya. Semua sunyi, hanya terdengar bunyi dari serangga-serangga hutan, dan angin yang berhembus.

Tiba-tiba keheningan itupun pecah setelah sebuah suara muncul,

‘Krak!’ *sfx : suara ranting patah

“Harusnya pohon gak guna dibakar aja,” terdengar suara seorang anak laki-laki.

Dimas dan kedua temannya masih bingung.

“Eh? Suara siapa itu?” tanya Djoni penasaran pada Dimas.

“Gila aja. Udah pada lupa ama gue?” sahut suara misterius itu.

“Siapa loe?” seru Saeful.

Kemudian muncullah sosok seorang anak laki-laki berambut lebat dan berantakan, dengan mengenakan kaos oblong dan celana kolor, dan berjalan membungkuk.

“Dicky,” seru Saeful.

“Olbrid,” panggil Djoni.

“Elo cok!” seru Dimas.

“Siapa kalo bukan? Temen loe yang paling keren ini,” jawab Dicky sembari tersenyum lebar.

“Ya udah yuk jalan lagi,” ajak Dimas. “Ya.. yuk..” jawab Saeful dan Djoni. Mereka bertiga langsung nampak seperti tidak memperdulikan kehadiran Dicky.

“Afu!!!” seru Dicky kesal dan kemudian disusul dengan gelak tawanya. Dicky berlari ke arah teman-temannya dan bergabung dengan mereka.

“Sekarang kita kemana?” tanya Dicky.

“Nyari kakak gue,” jawab Djoni.

“Jadi bener kalo Miskam ada di duni ini juga?” tanya Dicky lagi.

“Ya begitulah. Kami bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Eh apa kemarin malah ya? Ya pokonya belum lama ini lah,” jawab Saeful.

“Dia ngilang lagi gitu? Apa gimana?” tanya Dicky yang menjadi semakin penasaran.

“Gak tau juga. Dia kan lagi gak terlalu fit tubuhnya, jadi kita suruh istirahat di bawah pohon. Terus kita tinggal sebentar karena ada sedikit gangguan yang tidak diinginkan. Nah, pas kita balik lagi ke tempat dia istirahat tadi, dianya udah gak ada” jawab Djoni menjelaskan.

“Oke! Kita udah berempat. Kekuatan kita jauh lebih besar sekarang. Pasti bakal ketemu dan apapun rintangannya bakal takluk sama kita,” kata Dicky penuh keyakinan. Dimas dan Djoni tersenyum, kecuali Saeful.

“Lho? Kenapa cok?” tanya Dicky yang heran dengan ekspresi wajah Saeful yang nampak lesu.

“Gue udah bukan wizard. Gue gak bisa bantu,” jawab Saeful singkat.

Dicky terdiam, begitu juga yang lainnya.

“Wes! Rak popo! Gak usah dipikirin, toh masih bisa nendang sama nge-punch kan?” hibur Dicky. Saeful tersenyum.

Mereka berempat memulai perjalanan baru mereka. Untuk saat ini misi mereka adalah menemukan Miskam dan membawanya kembali dengan selamat.

————————-To Be Continued————————-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s