Diposkan pada Bahasa Indonesia, Lirik Lagu, Uncategorized

BERIKAN

Berikan aku …
satu kalimat yang bisa membuatku terpukau
akan dirimu
menggambarkan setiap sisi kurangmu

Berikan aku …
satu alasan ‘tuk tetap pertahankanmu
pertahankanmu
menjalani semua bersamamu

Namun sudah cukup sakit
yang selama ini ku rasa bersamamu
Namun sudah cukup mengecewakan
tingkah dan setiap ucapanmu

Kau tak bisa lagi… berikan kenyamanan seperti dulu
Kau tak bisa lagi… berikan indah cintamu padaku

Iklan
Diposkan pada Bahasa Indonesia, Novel : Q-Ta Knight's Story, Tulisan (?) Gue, Uncategorized

SAEFUL “SAI” – PROLOGUE – ROAD TO ANOTHER WORLD

ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR

“Hmmmm…?”

Disebuah kios Service dan Jual beli Perlengkapan Komputer, tergeletaklah seorang anak manusia berambut pendek dengan kuncir di depan, kulit sawo matang (menuju busuk), wajah bulat, dan badan kecil serta kurus. Anak itu menginap di kios tempat dimana dia bekerja sehari-harinya. Sebagai pengganti gajihnya biaya SPP ditanggung oleh pemilik kios tersebut yang juga merupakan guru Mapel Design Grafisnya di sekolah.

Adzan Subuh yang berkumandang ternyata tidak membangunkannya dengan segera. Hanya sejenak merubah posisi tidurnya, dan kembali lah dia menenggelamkan dirinya pada taman mimpi.

Dan kemudian…

“Yang disana ayo bangun… mana nich suaranya? pasti matanya belum dibuka ya? ayo, dibuka! bangun bangun bangun yah…”

Anak laki-laki itu kemudian terlihat tersenyum dan membuka matanya. Dengan wajah sumringah dia mematikan alarm hp-nya sembari berkata, “Iya CiGull, aku udah bangun.”

Anak tersebut bangun dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.

“Hari ini ada ulangan mendadak gak yah? Kalo diinget-inget hari ini ada jadwal Mapel Kewarganegaraan.” gumamnya setelah selesai berwudhu, “Ah! Pikirin nanti aja. Sholat Subuh dulu mumpung matahari belum tinggi” lanjutnya.

Selesai Sholat Subuh terdengar suara ponselnya berdering. Ketika dilihat di layar, ternyata emak yang telfon.

“Halo mak..?” sapa anak itu lembut.

“Udah siang Saeful. Pulang! Sarapan di rumah kan?” kata emak dari seberang telephon sana.

“Iya ini mau balik,” jawab anak itu kemudian.

Anak laki-laki yang bernama Saeful itu kemudian bersiap pulang. Merapihkan kasur lantai yang dipakainya untuk tidur semalam. Dan tidak lupa saat hendak meninggalkan kios Saeful mengunci dan menggembok rolling door kios tempatnya bekerja itu.

Saeful pun pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Dengan diiringi mentari pagi yang hangat menyentuh kulitnya, dan suara burung-burung kecil yang memeriahkan suasana pagi itu. Hari yang indah.

 

_~~~_

 

Diposkan pada Bahasa Indonesia, Indonesia, Novel : Q-Ta Knight's Story, Tulisan (?) Gue

DIMAS ‘THE TOD’ – PROLOGUE – ROAD TO ANOTHER WORLD

“Nah itu lah kenapa belajar itu penting gak penting. Soalnya nantinya kalo kita kerja, yang kita pelajari sekarang di sekolah belum tentu kepake. Bener gak?” kata seorang anak laki-laki yang nampak sedang memprofokasi teman sekelasnya untuk skip kelas.

“Ini masih pagi lho, kamu udah ngasih pengaruh gak bener aja ke orang lain” celetuk seorang gadis dengan jilbab putih dan kacamata baca yang nampak kegedean untuk mukanya yang tirus.

“Lu mah udah keracunan buku. Kagak ngerti dunia nyata yang menanti di depan sana. Buku itu sebagiannya itu cuma dongeng,” jawab si cowok berambut keriting acak-acakan sambil lompat dari mejanya.

“Dimas!” seru anak perempuan tadi yang merasa diremehkan.

“Apa? Ngajak ribu?” tantang anak laki-laki bernama Dimas itu. Sambil mengacak-acak jambulnya yang tidak nampak seperti jambul dia meledek anak perempuan tadi dengan menunjukkan muka anehnya.

“Hiii… jijik”

“Huuu.. Kabur sana! Hahahaha” ledek Dimas lagi semakin menjadi setelah anak perempuan tadi tidak tahan berhadapan dengannya dan memilih untuk keluar kelas. Dimas kemudian kembali berkumpul dengan teman-temannya yang sedari pagi diceramahi tentang betapa tidak terlalu pentingnya belajar menurut dirinya.

Saat pulang sekolah Dimas yang pada akhirnya mengikuti jam pelajaran sampai akhir nampak cemberut. Dengan muka masam dia melirik ke anak perempuan yang tadi pagi diledeknya. Rupanya anak perempuan tersebut mengadu ke wali kelas tentang sikap Dimas di kelas, dan berujung Dimas di hukum untuk belajar sendiri di ruang guru. Enak gak enak disuruh belajar sendiri dengan dikelilingi guru-guru yang memang sedang tidak ada jam mengajar, apalagi waktu itu Pak Gunawan yang merupakan guru killer cuma kebagian mengajar di 2 jam pembelajaran terakhir. Kenyanglah sudah Dimas di ruang guru dengan dijaga ketat oleh Pak Gunawan. Ditambah kebiasan Pak Gunawan yang sangat suka bertanya-tanya materi dari mata pelajaran lain yang tentunya Dimas cuma bisa menjawabnya dengan ngawur.

“Asyem bener! Siska si Ember Pecah emang nyebelin gila. Pake ngadu segala,” gerutu Dimas sambil melintas di depan satpam sekolah yang senyam-senyum sedari jauh melihat Dimas yang mukanya cemberut itu.

“Tumben sampai jam sekolah selesai,” ledek Pak Satpam tadi.

“Berisik! Gue lagi kesel!” hardik Dimas yang kemudian membuang muka dan berlalu pulang.

 

_~~~_

Diposkan pada Bahasa Indonesia, Novel : Q-Ta Knight's Story, Tulisan (?) Gue, Uncategorized

Djoni aka DJ – Prologue – Road to Another World

ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR

Adzan Subuh berkumandang di berbagai masjid maupun mushola di Kabupaten Banjarnegara, khususnya di Wanakarsa tempat seorang anak imut (kata emaknya) dengan gaya rambut a la Kirito dari anime Sword Art Online. Anak dengan kulit kuning langsat, dan badan yang kecil itu hendak bangun dari tidurnya. Perlahan dibuka kedua matanya meskipun berat, karena kantuk yang teramat sangat. Anak laki-laki yang juga seringkali dikira cewek ini bernama Djoni.

Orang tuanya memang memberikan nama Djoni menggunakan ejaan lampau, namun itu yang membuat Djoni unik. Teman-temannya bahkan seringkali memanggilnya dengan nama DJ. Bagi yang kebetulan lewat dan tidak tahu menahu asal muasal panggilan DJ tersebut pasti akan heran dan bertanya-tanya, “Ini anak DJ (Disc Jockey)?”. Padahal cutting atau crop audio juga masih suka kerepotan.

Djoni bangun dari tidurnya dan mendudukkan dirinya sejenak untuk mengumpulkan nyawa yang masih separuh itu. Mengusap kedua kelopak matanya dan pergi keluar kamar untuk mengambil air wudhu di kamar mandi. Pagi itu sangat dingin sebenarnya, tapi karena Djoni sudah terbiasa bangun pagi jadi dia terlihat biasa saja. Meskipun tetap menggigil sesekali.

Miskam yang adalah kakak dari Djoni juga sudah terbangun rupanya. Miskam justru sudah rapih dengan pakaian koko, sarung, dan peci hitamnya bersiap untuk pergi ke mushola.

“Udah bangun?” tanya Miskam.

“Heem…” jawab Djoni singkat sambil masih mengusap-usap kelopak matanya.

“Hari ini kamu yang shift malem ya?” kata Miskam kemudian sambil berlalu keluar rumah. Dan tak lupa mengingatkan Djoni untuk mengunci lagi pintu jika hendak pergi menyusul ke Mushola.

“Hoahm… Gini-gini aja hidup yah. Ya sudahlah, syukuri saja,” gumam Djoni yang kemudian melanjutkan berwudhu.

Sepulang dari Mushola Djoni dan Miskam berbincang-bincang tentang niatan Miskam untuk resign dari warnet. Djoni agaknya setuju namun juga bingung kalau nantinya cuma dia yang bekerja di warnet sendirian. Miskam yang mengerti dengan yang dirasakan adiknya itu memberikan usul untuk pergi mencari pengganti untuk dirinya. Miskam sendiri tidak sempat untuk mencari, dikarenakan kesibukan kuliahnya yang semakin padat dan tidak bisa ditinggalkan.

Sambil berjalan pulang Djoni yang sebenarnya berat hati dengan keputusan Miskam, mencoba untuk diam dan tetap bersabar. Sekelebat dalam benaknya terfikir jika saja hidupnya tidak sedatar ini, seandainya hidupnya lebih berwarna dan lebih seru. Djoni jadi teringat dengan anime Sword Art Online yang beberapa waktu lalu sering ditontonnya. Mungkin akan menyenangkan jika ada game yang benar-benar bisa seperti game di anime itu. Semua terasa nyata, meskipun itu semua hanya dunia virtual. Djoni ingin memiliki kehidupan kedua yang dirancangnya sendiri, dan tidak ada yang mengaturnya dalam menjalani hidup. Djoni ingin masuk ke dunia khayalan seperti itu dimana dia bisa menjadi sosok laki-laki yang lebih berani dan bisa menghadapi segala tantangan.

Djoni berharap, akan tiba saat dimana game yang diimpikan banyak orang itu bisa cepat tercipta. Djoni berharap akan ada dunia virtual yang membuatnya menjadi sosok laki-laki yang tangguh dan juga pemberani.

 

_~~~_

Diposkan pada Bahasa Indonesia, Novel : Q-Ta Knight's Story, Tulisan (?) Gue, Uncategorized

DICKY – Prologue – Road to Another World

“Masih mainan game?”

Suara emak berkumandang di pagi itu. Jam di dinding menunjukkan sudah jam 6:00 WIB. Hari Senin yang cerah, dengan udara yang sejuk dan sinar mentari yang hangat membelai kulit. Burung-burung kecil berkicau di pepohonan dan di atap-atap rumah.

“Mandi sana! Sekolah kan?” terdengar lagi suara emak yang memecah tentramnya pagi.

Tapi itu tidak terjadi di satu rumah saja, bahkan seluruh emak di komplek itu saling bersahutan membangunkan anak-anak mereka yang pulas tidur setelah sehari libur.

“Dicky!!!” teriak lagi dengan nada lebih keras dari sebelumnya. Memekakkan telinga. Dan ditambah BRAKK!!! Emak ngegedor pintu sekuat tenaga.

Sekeras apapun emak teriak, Dicky masih kalem-kalem aja di kamarnya dengan headphone yang menyumbat kedua telinganya. Matanya fokus ke layar komputer yang menampilkan game yang sedang dimainkannya sejak semalam.

“Ini game kenapa gak selese-selese coba? Levelnya ditambah terus nih.. Takut cepet selese dan gak ada yang mau main lagi kali ya?” gerutu Dicky sambil menggigit jempol tangan kirinya. Jari telunjuknya menekan mousenya dan tangannya menggerak-gerakan kursor memilih menu satu ke menu lain di dalam game.

Bosan sendiri dengan gamenya tersebut Dicky kemudian bangkit dari meja komputernya. Dia langsung menjatuhkan diri ke kasur empuk yang ditinggalkannya sejak hari Minggu kemarin. Berniat untuk tidur, Dicky mulai memejamkan matanya dan terdengar lagi kemudian suara pintu digedor. Emak pun kembali meneriaki Dicky untuk segera mandi dan bersiap pergi ke sekolah. Dicky menutupi wajahnya menggunakan bantal guling dan sprei.

“DICKY!!!” Emak ternyata sudah melongok di balik jendela, dengan kekuatan penuh emak melemparkan air di dalam ember yang ditentengnya melalui celah jendela yang berada tepat di samping tempat tidur Dicky.

“Emaaaakkk!!!” teriak Dicky kemudian setelah mendapatkan guyuran hujan di tengah pagi yang cerah itu.

_~~~_

Diposkan pada Bahasa Indonesia, Indonesia, Tulisan (?) Gue, Uncategorized

BEFORE SLEEP [PART 3] END

Aku berlari sekuat tenaga kemudian, karena kulihat dia tetap tak bergeming dalam kegelapan seberang sana. Meskipun masih dengan menahan rasa perih di lengan, kucoba sekuat tenaga mencapainya dan hendak ku hajar dia tepat di mukanya.

Tapi memang benar! Dia bukan manusia biasa! Saat aku hampir mendekatinya, hampir aku melayangkan tinjuku ke wajahnya dia dengan cepat menghilang. Akhirnya hanya angin yang disambar oleh tinjuku itu. Benar-benar membuatku bingung dan semakin takut dibuatnya. Aku pun langsung membalikkan badan, takut kalau dia akan menyerang balik padaku dari arah yang tak terduga. Beruntung dia tidak ada di belakangku waktu itu. Namun, dia kemudian muncul secara cepat di samping kiriku dan tanpa sempat aku menghindar dia sudah menancapkan anak panah yang lain ke lengan kiriku lagi. Kali ini dia menggunakan tangannya sendiri untuk menusukku. Sakit yang tak terperi itu membuatku berteriak dengan sangat keras.

Aku pun tersungkur, mataku mulai berkunang dan tatapanku buyar. Aku hampir tidak bisa melihat apapun, hingga berangsur aku tak sadarkan diri. Semua gelap. Nafasku terasa berat, aku terbatuk-batuk namun tak bersuara. Baru kali ini aku merasakan hal seperti ini hingga membuatku teramat takut. Tidak ada setitik cahayapun yang masuk untuk sekedar memberiku nafas dan juga secercah harapan. Namun semua hanya anganku saja. Aku terjebak dalam kegelapan itu sendirian.

Mungkinkah aku telah mati?

Mungkin saja. Sebab yang kutahu, beginilah kematian. Gelap, dingin, berat untuk bernafas lagi, dan sendirian.

Banyak sekali yang sudah kulalui dalam hidupku yang sebelumnya. Banyak dosa dan kesalahan yang sudah kuperbuat. Banyak kenangan indah bersama keluarga dan sahabat serta teman-teman yang bertemu meski hanya sekejap. Terpisah jarak, terpisah waktu, dan begitu pula terpisah dengan kehidupan yang sudah berbeda. Dan kini mungkin giliranku untuk pergi ke dunia yang berbeda tersebut dan berpisah dengan keluarga maupun sahabat-sahabatku.

Sebuah suara menggelegar dan menggetarkan jiwa tiba-tiba terdengar. Aku yang sedari tadi meratapi nasibku dibuat kaget oleh suara tersebut. Suara yang berat dan seperti petir yang menyambar, begitu keras memekakkan telinga. Aku menutup kedua telingaku, mencoba untuk berlindung dari suara yang bisa saja membuatku tuli seketika. Aku yang lemah tak berdaya mencoba meraba-raba dan meraih apapun yang bisa kujadikan pegangan. Namun seperti yang kuduga, memang ruangan tersebut hanya ruangan kosong tanpa ada benda apapun selain kehampaan. Aku sendirian, dan aku ditakuti suara yang mengerikan itu.

Suara tersebut tidak begitu jelas ku dengar. Entah dia memanggil atau menyapa atau memerintah, aku sama sekali tidak bisa menerkanya. Saking takutnya aku, atau memang saking kerasnya suara itu yang menjadi bergema di seluruh tempat itu. Aku yang kemudian sedikit demi sedikit bisa menopangkan tubuh di kedua kakiku itu, berusaha menjauh meskipun perlahan. Sejengkal demi sejengkal, selangkah demi selangkah hingga akhirnya aku bisa berlari. Hanya saja sial menimpaku kembali, aku terjatuh pada sebuah jurang dan…

BRAKKK

“Lu kenape?”

Sebuah suara kembali terdengar, hanya saja aku kenal betul dengan suara itu barusan. Aku tidak asing dengan suara ramah dan menyenangkan itu.

Aku mencoba mengusap kedua mataku, dan mengerdipkan mataku berulang kali untuk mendapatkan penggambaran yang lebih jelas. Dan kudapati sepasang kaki di depanku, dengan jempol besar disana yang tidak lain adalah temanku.

“Andi?” tanyaku.

“Iye.. Lu susah amat dibangunin?” tanya Andi kemudian. Dengan muka penasaran dan sedikit terkekeh melihatku yang terjatuh dari tempat tidurku.

“Lho? Jadi yang tadi itu..?”

Kusadari ternyata hal mengerikan yang kualami tadi malam adalah sebuah mimpi buruk. Andi memapahku untuk berdiri. Dia begitu penasaran dengan mimpi yang kualami semalam. Aku menceritakan setiap detailnya, dan dia begitu antusias mendengarkan.

“Gila… Lu mimpi sampe segitunya. Kagak baca do’a dulu pasti lu sebelum tidur,” kata Andi yang kutanggapi dengan kernyitan di dahi. Namun setelah kembali ku ingat, ada benarnya apa yang dikatakan Andi.

Semalam saat aku hendak membaca do’a-do’a sebelum tidur itu ternyata aku langsung terlelap sebelum menyelesaikan do’aku itu. Mungkin karena lelah dan selimut yang begitu hangat membuatku nyaman di tempat tidur sehingga bisa dengan cepat membuatku terlelap. Kejadian dimana aku melihat makhluk dengan mata menyala merah yang membunuh pemilik kontrakan secara sadis di kamar mandi kosong dan aku yang juga terbunuh olehnya ternyata hanya mimpi belaka. Aku masih ketakutan sebenarnya meskipun sudah kembali sadar ke kehidupan nyata ini. Kejadian yang kualami itu terasa sangat nyata dan sakit di lenganku masih tersisa bahkan sampai kini.

Andi kemudian menyuruhku untuk pergi membersihkan badan karena kami memang sudah hampir telat untuk pergi bekerja. Andi teman kantor yang seringkali datang ke kontrakanku pagi-pagi untuk membangunkanku, atau sekedar mampir ngopi sepulang kerja dan dilanjut obrolan-obrolan ringan biasa.

Kembali kuingatkan pada diriku saat masuk ke kamar mandi yang berada di luar ruangan untuk selalu berdoa sebelum melakukan aktifitas. Terutama berdo’a sebelum tidur, karena mempunyai mimpi buruk itu memang benar-benar buruk.

 

 

END